Haol Mama Gelar Wisata Religi Tradisi Islami

Haol Mama Gelar Wisata Religi Tradisi Islami

Haol Mama Gelar: Wisata Religi Tradisi Islami

Sudah keempat kali saya dan keluarga bisa mengunjungi pondok pesantren Gelar, di Peuteuy Condong, Cibeber Cianjur. Khususnya pada jelang bulan Rajab, dimana diadakan peringatan haol sesepuh pondok pesantren yaitu KH. Mama Gelar.

Tidak seperti kunjungan tahun lalu dan tahun sebelumnya, kali ini saya beserta keluarganya datang siang hari. Dulu kalau datang selalu malam, setelah isya. Pas haol kali ini datang siang, wah rasanya beda banget.

Dulu ke haol jelang malam satu Rajab. Sekarang saya dan keluarga berkunjung sekitar dua hari lagi ke satu Rajab. Kalau malam, sangat ramai. Maklum acara haol disertai pasar malam yang sangat ramai. Jadi setelah ziarah bisa sekali cuci mata atau belanja. Saat saya datang siang, terasa sepi. Ada sih aktivitas cuma tidak seramai dan sepadat kalau malam hari.

Enaknya, datang siang hari jalan dan parkiran sangat lengang. Suami bawa motor disimpan langsung di depan pintu masuk makam. Kalau datang malam, wah boro-boro bawa motor ke lingkungan pesantren, masuk jalan desa saja sudah susah. Keluar masuk sangat padat. Kami pernah mau pulang kejebak mobil yang maju tak bisa mundur juga kesulitan. Akhirnya melipir ke gang dan menyusuri jalan kampung masuk sawah dan kebun. Eh tahu-tahu tembus ke Jalan Cilaku Warung Kondang.

Saat ziarah siang, selain bisa santai karena lowong, kita juga bisa melihat jelas makam Almarhum Mama Gelar. Kalau malam kan mana bisa? Duduk di pelataran saja sudah untung, saking membludaknya pengunjung ke acara.

Di acara haol ini saya beli air dua botol Rp.5K danĀ  kalender ciri khas pesantren Rp.25K terdiri dari 4 lembar. Lumayan sekaligus di rumah belum ada kalender tahun 2020.

Fahmi sendiri jajan mainan jadul, perahu kelotok yang bisa jalan meski tanpa mesin. Cukup dimasukan air, lalu nyalakan obor terbuat dari kapas yang sudah dilumuri minyak goreng. Api itu dalam tempat khusus diletakkan di dalam perahunya. Saat air mendidih, maka terdorong dan perahu melaju dengan mengeluarkan bunyi kelotok-kelotok.

Harganya cukup mahal, Rp. 25K satunya. Padahal kalau di pasar malam biasa, sekitar sepuluh atau 15K saja. Setelah sampai rumah, perahu kelotok nya malah sudah tidak. Lem yang merekatkan satu dinding seng dengan dinding seng lainnya tidak cukup kuat. Ketika dicoba, baru sebentar mual dan jalan beberapa keliling, sudah kemasukan air dan karam. Meski kecewa, Fahmi tetap bisa menertawakan kapalnya yang karam itu.

Biasanya Ayah Fahmi beli sarung, peci atau tasbih. Tapi kali ini gak beli apa-apa. Sama seperti saya. Kalau siang rasanya mau beli kok malu. Hahaha… Sekedar melihat barang yang dijual di pajangan saja gak bisa melihat lama dan detail.

Kalau malam, saya dulu beli baju, kerudung, sampai jajan makanan khas. Mungkin kalau malam banyak pengunjung jadi gak merasa diperhatikan. Ini kali siang kan sepi, perasaan jalan sana sini mata orang melototi kita. Hahaha.

Sedang menunggu Fahmi serta ayahnya dari tawasul (kan muslimin dan muslimah dipisah) saya melihat Kang Asep Blogger Cianjur dari jauh. Saya yakin itu Kong Asep tapi belok ke arah masjid. Setelah kami mau pulang, eh tidak sengaja ketemu di jalan dan bener itu Kang Asep.

Karena buru-buru katanya mau ke madrasah bersama rombongannya, kami berpisah. Sampai pulang ke rumah kami tidak ketemu dulu. Saya pamitan malah lewat group di wa. Hahaha.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *