Derita Ibu

Derita Ibu

Derita Ibu

Sepi. Tidak ada tanda hari istimewa, apalagi suasana kemeriahan euforia hari ibu. Meski orang tua kami hanya sebelah lagi yang masih ada, tinggal sang ibu. Tapi semuanya biasa saja, seperti kemarin dan hari-hari lainnya.

Keluarga saya memang tidak mengenal tradisi merayakan hari apa, kecuali hari libur nasional, hari lebaran, dan atau peringatan hari besar Islam lainnya yang suka dimeriahkan bersama-sama.

Sebelum menikah, saya bebas mengucapkan hari ibu. Baik saat di rumah atau sedang berada di tempat lain. Menelepon salah satu cara memberikan kebahagiaan kepada ibu, yang selalu sendiri dan berada jauh.

Setelah menikah, saya bertemu dengan suami dan keluarganya yang serba dingin. Saya pada awalnya berinisiatif memberikan ucapan, kejutan, dan sejenisnya, sebagai bentuk sebuah perhatian alakadarnya saja. Tapi menilai respons dari suami dan keluarganya yang adem ayem, yo wes lah saya yang mundur secara teratur. Dunia mereka lain dengan dunia saya. Saya harus bisa menyesuaikan diri. Mungkin…

Jadilah saya yang mengikuti kebiasaan suami. Saya jadi terbawa tidak peduli. Tak terlalu rajin lagi mengingat hari istimewa apa, atau berusaha save the date kalau ada momen penting bagi anggota keluarga. Menikah menjadi penutup komunikasi internal saya dengan keluarga sendiri.

Jangankan hari ibu, hari dimana ibu saya akan berangkat umroh saja, saya tidak bisa menemui untuk bersilaturahmi. Jangankan mengantar ibu ke bandara sebagaimana adik dan keluarga lainnya, keluar rumah saja saya tidak. Saat itu adalah saat terburuk bagi saya. Saya tidak akan melupakan tidak bisa memaafkan diri saya sendiri atas semua kebodohan ini. Ketidakberdayaan saya membuat semua keluarga besar menangisi saya.

Tidak ada tempat untuk mengadu, kecuali hanya dalam jeritan doa dalam diam. Karena itu jauh sebelum semua ini terjadi, saya sudah memikirkan semua ini. Kelak, jika masa tua saya hanya dihabiskan sendiri, tanpa kehadiran anak dan saudara, itu adalah buah dari apa yang saya tanam saat ini. Saya tidak akan bersedih. Karena saya tahu itu tidak seberapa dibandingkan kesedihan ibu saya saat ini. Insyaallah saya bisa menyelesaikan masalah saya sendiri.

Jika kelak saya hanya bisa memandang anak cucu tetangga begitu ramai saling mengunjungi dan silaturahmi, maka semua itu pula adalah balasan perbuatan saat ini. Saat dimana saya susah menengok ibu sendiri. Susah mengajak anak untuk sekadar menengok neneknya. Susah sekadar mengajak keluarga saya untuk berkumpul bersilaturahmi dengan orang tua dan saudara. Saya akan lalui sepenuhnya dengan berdoa, dan membiarkan semuanya berlalu begitu saja, persis seperti yang dilakukan ibu saya, saat ini.

Saya berada di dua kutub yang saling bertegangan. Saya hanya diam. Saya hanya bisa melukis kekuatan melalui doa dan air mata. Mungkin ini proses kehidupan yang harus saya terima. Semoga semesta tahu, itu semua bukan keinginan saya.

Saya bukan termasuk istri atau perempuan yang bisa bersabar saat tertekan. Saya bukan tipe wanita yang bisa berpura-pura bisa tersenyum saat hati menangis. Apalagi hanya diam saat terhina. Tidak.

Meski saya ingin jadi orang yang terlihat memesona karena memaafkan atas kesalahan orang lain. Meski saya selalu berusaha bisa merawat dan membalut luka hati dengan sabar dan ikhlas. Atau sekadar menyembunyikan amarah dengan menaburkan senyuman di atasnya. Saya akui tidak mudah menghapus dendam dengan maaf.

Ibu, wanita hebat yang melahirkanku, maafkan atas segala keterbatasan saya. Maafkan atas kebekuan yang tercipta antara kita, selepas kau merestui saya dibawa suami ke rumah mertua.

Hari ibu atau bukan, saya yakin engkau tahu, selamanya engkau tetap saya peringati, dan selalu ada di hati, ibu…

 

27 thoughts on “Derita Ibu

  1. I love my mom. Terharu baca artikelnya mbak. Selamat hari ibu untuk semua ibu hebat di dunia ini. Derajat ibu lebih tinggi dan mulia. Untukmu yang tak bisa ku sentuh namun bisa kurasakan.

  2. Ah, Mbak.. aku sedih sekali membacanya. Banyak hal jadi rumit pasca menikah, ya, meski begitu semoga semua bisa dilalui dengan baik dan komunikasi yg baik bisa terus dibangun walaupun berjarak. Semangat, Mbak 🙂

  3. Duh menampar diriku banget yang sok sibuk, nggak ada waktu buat nengok ibuku. Padahal yang kukerjakan ya cuma gitu2 aja. Semoga kita sanggup membuang yg tak penting untuk lebih nyayangi & mendoakan ibu. Selamat hari ibu ya

  4. Teteeeh,
    Sekarang Mamaku sudah almarhum dan menyesal karena ketika masih ada aku suka jarang nelfon dan berkunjung dengan alasan kesibukan. Saat ini hanya bisa sekadar mendoakan saja.

    Semangat terus yah Teeeh dan selamat hari Ibu 🙂

  5. Semoga ada waktu terbaik yang mampu mengubah kebekuan ini ya Teh. Kondisinya mirip dengan teman sekantor saya dulu. Kalo mau mudik ketemu ibunya, dia minta ijin ke suaminya selalu mepet. Biar dapat ijin, kalo enggak ya temen saya ini tetep pulang. Meski dia tahu kalo itu melanggar ajaran agama karena tidak patuh pada suaminya.

  6. Kebalikannya kalau di keluarga suamiku semua ada ucapan selamat, kalau di keluargaku ayem aja haha. Jd ngucapin ya seneng, gak ngucapin ya selow aja 😀
    Tinggal jauh dari ibu kah mba?
    Aku juga jauh dr ibuku, tapi sebisa mungkin sering telpnan gtu 😀

  7. Kebalikannya kalau di keluarga suamiku semua ada ucapan selamat, kalau di keluargaku ayem aja haha. Jd ngucapin ya seneng, gak ngucapin ya selow aja 😀
    Tinggal jauh dari ibu kah mba?
    Aku juga jauh dr ibuku, tapi sebisa mungkin sering telpnan gtu 😀
    .

  8. Iyes setiap hari bagi saya juga hari Ibu, karena Ibu kita bisa berdiri tegak dalam posisi seperti sekarang, banyak nilai nilai kehidupan yang telah Ibu ajarkan yang hingga hari ini sangat bermanfaat untuk kehidupan saya dan saya terapkan juga kepada anak anak

  9. Insya Allah ibu tahu rasa sayang Teteh ke beliau tak berkurang dan semoga segera ada jalan utk mengatupkan jarak, menghapus kerinduan yg tercipta..

    Selamat Hari Ibu, Teh..

  10. Mbak saya tertegur baca artikel ini. Saya langsung nelpon ibu dan pengen banget meluk ibu saya sekarang. Thanks buat sharingnya mbak.

  11. Nangis, Mb
    Memang kalau keluarga cool kita jadi salting y Mb
    Yaweslah
    Moga2 ibu kandung Mb senantiasa sehat y Mb dan Mb jd ibu yg bahagia
    Memang saya akui sulit menghapus sakit hati Mb
    Mb g sendiri
    Smoga Allah melembutkan hati kita aamiin

  12. Bicara soal keluarga besar, yah, banyak hal runyam terjadi karena adanya semacam gesekan. Terutama pemikiran. Saya juga bukan orang yang mudah memaafkan, cenderung pemendam yang bisa mendendam kalau disakiti terlalu keterlaluan.
    Semoga bisa bertahan.

  13. Ayo mba, kembali bergembira dengan ibu. Meskipun tidak pake ucapan hari ibu, sesering mungkin berkomunikasi akan memberikan rasa yang mendalam. Aku kalau udah di dekat ibu tuh rasanya ayeeeem banget soalnya. 😉

  14. terharu banget bacanya
    dulu aku lumayan banyak tulisan tentang ibu karena lagi di perantauan ikut suami
    sekarang alhamdulilllah udah deketan banget
    malah jadi jarang nulis hehe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *