Pemburu Jotik

Pemburu Jotik

Cerita Oknum Jemaah Pemburu Nasi Gratisan

Minggu lalu, habis bubaran anak santri mengaji di rumah, suami ngajak anak tolab (menghadiri ceramah pengajian) di sebuah masjid yang cukup terkenal di sekitar tempat tinggal kami. Meski takut cuaca turun hujan, tapi akhirnya kami berangkat juga.

Maklum di kampung, sudah jadi kebiasaan jika ada cara peringatan maulid nabi, isra mi’raj, atau pengajian umum lainnya, masyarakat sekitar selalu datang berbondong-bondong untuk menyimak apa yang akan disampaikan sang dai. Apalagi kalau penceramah nya cukup terkenal. Orang dari luar kecamatan dengan jarak tempuh kendaraan setengah jam lebih pun banyak berdatangan.

Jika orang dewasa saat tolab lebih fokus ke menyerap ilmu pengajian yang disampaikan sang ulama, maka lain lagi dengan anak-anak santri. Mereka biasanya tolab karena mengharapkan siapa tahu dapat makanan yang biasanya disuguhkan pribumi. Hehehe…

Kan lumayan bisa numpang makan gratis karena biasanya jemaah yang datang sesudah atau sebelum mengaji dipersilahkan makan prasmanan. Atau kalaupun tidak, mendapat semacam nasi bungkus yang biasanya isinya berupa nasi kuning.

Makanan yang dibagikan ini ada yang menyebutnya berkat, ada yang menyebut jotik, singkatan dari kejo saeutik (artinya nasi sedikit). Atau istilah lain karena setiap tempat dan daerah bisa saja istilahnya berbeda.

Kembali ke ajakan tolab suami setelah bubar mengaji tadi, setelah sampai di lokasi, beruntung acara inti belum dimulai. Fahmi malah sempat jajan dulu ke minimarket yang lokasinya berada di depan (sebrang jalan) bangunan masjid. Setelah beli camilan dan minuman buat anak, kami pikir lebih baik duduk di halaman minimarket saja. Selain bersih, terlihat jelas ke panggung tempat nanti sang penceramah berada juga jika hujan turun, kami tidak kan kerepotan mencari tempat berteduh.

Tolab di halaman minimarket

Bermodalkan kardus bekas air mineral yang kami pinta dari kasir minimarket, akhirnya kami duduk di teras. Lama-lama di depan kami berdatangan juga masyarakat sekitar lainnya yang ikut tolab. Mayoritas ibu-ibu dengan anak di gendongan. Sedangkan bapak-bapak lebih banyak masuk ke Masjid.

Beberapa menit kemudian datang seorang ibu membawa makanan suguhan. Ada kue basah, juga kap berisi jotik. Ibu itu memberikan kepada jemaah paling depan. “Bagi sampai ke belakang ya…” Pintanya.

Tapi ternyata kami yang di belakang sama sekali tidak mendapat suguhan itu. Saya dan suami sendiri sama sekali tidak mempermasalahkan. Toh kami tidak kelaparan-kelaparan amat. Bahkan bekal camilan dan minum pun sudah sedia. Beli sendiri. Yang kami herankan ahlak kedua wanita depan kami itu.

Tanpa rasa malu, kue dan suguhan itu mereka nikmati saja. Jotik yang jelas si ibu tadi bilang buat kami berdua (saya dan Suami) di belakang, pun tidak diberikan. Ih, mentang-mentang orang kampung situ, kenal sama si ibu yang jadi panitia pembagi suguhan, mereka yang duduk depan kami seenaknya saja nyerobot suguhan yang jadi hak kami.

Jadi saya berani bilang mereka datang tolab itu bukan mau menyerap ilmu dari sang ulama, melainkan mereka hanya berburu makanan. Menadah suguhan dan jotik untuk dibawa pulang sebanyak-banyaknya! Nauzubillah…

Padahal kalau di kampung saya sendiri, saat kami jadi panitia acara sejenis, semua sudah saling mewanti-wanti kalau kita sebagai pribumi, harus semaksimal mungkin memuliakan tamu. Dalam arti, termasuk pembagian suguhan dan jotik, dahulukan untuk mereka para tamu dari luar kampung. Sementara masyarakat kampung sebagai pribumi kebagian atau tidak itu urusan belakangan.

Rupanya pikiran itu tidak ada sama sekali dalam kepala dua perempuan yang duduk di depan kami. Yang ada dalam pikiran mereka gimana cara dapetin suguhan dan jotik untuk dibawa pulang. Soal orang lain tidak kebagian, masa bodo, toh gak kenal ini. Bukan warga kampung sendiri.

Salah dua pemburu jotik depan kami

Mereka tidak mikir kalau kelakuan mereka itu sudah bikin reputasi nama DKM dan nama kampung sendiri jadi jelek di mata para tamu jauh dari luar kampung yang datang untuk tolab.

Kalau saja bersama kami ada anak-anak santri, saya yakin para perempuan yang tidak amanah ini sudah habis diviralkan.

Astagfirullah…

16 thoughts on “Pemburu Jotik

  1. Huhuuu..emang selalu ada yang kaya gitu teh ibu2 tuh, suka malu sendiri lihatnya, apalagi suasananya di Mesjid ya.

    Ah pembelajaran buat kita, semoga kita dijauhkan dari hal2 begitu.
    Aamiin.

    1. Lha sama, Mbak. Kayak yang waktu itu saya bikin status di FB. Sekolahnya kedatangan tamu dari Jakarta Post. Dia mau ikutan supaya dapat makan. Kalau boca mah masih pada polos, ya hahaha

  2. Saya baca ini senyum-senyum sendiri karena menganggapnya ketidakarifan lokal warga sebuah distrik di Cianjur πŸ˜€

    Kalo saya jadi Ceu Okti ya, saya bakalan datang lagi ke pengajian itu, terus tetap duduk di belakang. Tapi.. sambil bekel pizza, burger, steak, soto ayam, ubi Cilembu, yang dimakan sendiri! :)) Supaya ibu-ibu yang berburu jotik di depan iri. Naha jotik ngan saeutik we diembat sorangan, tah urang mawa pitsa jeung soto henteu bagi-bagi ka eta awewe! :))

    1. Sayangnya semua makanan itu ga ada yang jual di Cianjur Selatan ini. Bikin sendiri ga bisa. Ga ada alat 😁😁😁
      Paling bisa balik lagi tolab ke sana ntar tahun depan. Pas peringatan Maulid Nabi Muhammad lagi. Itupun kalau masih ada umur dan kesempatan

  3. orang yg datang ke kumpulan begini memang macam2 tujuannya. saya tak terlalu memusingkan, biarkan mereka mendapat apa yg diinginkan. memang itu tujuan ke acara ini. karena itu tiap kali ke kumpulan, walau rapat PKK, saya selalu bawa bekal sendiri agar tidak terlalu mengharapkan suguhan

  4. Dulu..dulu ketika masih jadi anak kos2an sih sering juga selain cari ilmu ke pengajoan berburu berkat. Etapi gk sampai mengambil hak orang lain seperti dicerita mbak Okti

  5. Dulu..dulu ketika masih jadi anak kos2an sih sering juga selain cari ilmu ke pengajoan berburu berkat. Etapi gk sampai mengambil hak orang lain seperti dicerita mbak Okti..

  6. Dulu..dulu ketika masih jadi anak kos2an sih sering juga selain cari ilmu ke pengajoan berburu berkat. Etapi gakk sampai mengambil hak orang lain seperti dicerita mbak Okti..

  7. Perilaku yang seperti inilah tugas semua orang mengingatkan. Baik dalam ceramah agama maupun dalam kehidupan sehari-hari. Pentingnya mengetahui apa yang menjadi hak pribadi dan orang lain. Bagusnya Teteh langsung ingatkan juga saat itu. Pelan-pelan. Mana tahu memang dia nggak faham tentang hak orang lain.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *