Tentang Keripik Kentang dan Masa Kerja di Hougang

Tentang Keripik Kentang dan Masa Kerja di Hougang

Tentang Keripik Kentang dan Masa Kerja di Hougang

Semalam kami menghadiri acara pengajian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di suatu kampung beda kecamatan. Kebetulan tempat kami duduk di depan mimbar itu membelakangi minimarket dominan merah yang memang sudah jadi langganan.

Untung bawa uang, anak yang meski dari rumah sudah dibawakan bekal segala macam tetap saja merengek minta jajan. Yup masuklah saya danย  anak ke minimarket tersebut mumpung pengajian yang akan disampaikan ustad dari Cikalong Cianjur belum dimulai.

Pringless makanan ringan keripik kentang dalam tabung yang diinginkan anak menjadi salah satu camilan yang selalu diinginkannya. Meski saya heran nih anak tahu saja kapan kesempatan untuk mendapatkan apa yang diinginkan, seperti saat mengikuti tolaban ini… Namun tidak urung saya tentu saja membelikannya.

Berkaitan dengan Pringless si keripik kentang ini sepulang dari mengaji itu saya sendiri teringat pengalaman yang cukup getir yang pernah saya alami saat bekerja di Hougang, Singapura.

Sekitar tahun 1999-2001 saya bekerja di sebuah rumah yang mana pemilik nya alias majikan saya bisa dibilang pelit. Tapi bagi saya tidak berpengaruh, kebetulan saya juga orangnya makan sedikit. Jadi ketika sarapan hanya dijatah minum satu gelas dan satu kerat kue, tidak masalah.

Justru beda dengan anak majikan, semuanya ada tiga orang, mereka suka banget makan dan ngemil. Tapi karena orang tuanya perhitungan jadi uang jajan dan makanan mereka pun dibatasi.

Setiap akhir pekan, sekembalinya dari makan di luar mereka selalu belanja, termasuk jajanan anak. Salah satunya ya keripik kentang Pringless ini. Saya selalu ingat saat itu anak paling kecil pernah memberi saya keripik kentang, eh kakaknya marah besar. Lapor orang tua nya sampai jadi keributan. Sampai adiknya yang paling kecil itu nangis dan mengadu. Katanya di sekolah juga disuruh berbagi.

“Iya bagi saja satu lembar keripik kentang (ke saya) sudah cukup.” Jawab kakaknya.

Dalam hati saya bilang pelit kok dipelihara. Asal mereka tahu, saya bukan tidak mampu membeli jajanan itu, tapi buat apa, saya kerja bukan buat makan. Tapi buat nabung dan bayar hutang.

Dikasih keripik satu lembar gini saja jadi masalah

Masih tentang si Keripik Kentang, suatu hari teman lain blok di Hougang Avenue 7 pulang liburan merayakan ulang tahunnya. Karena saya tidak bisa datang, teman saya mendatangi saya, sambil membawa beberapa bungkus makanan serta camilan, termasuk si Keripik Kentang ini. Saya bawa semua makanan itu ke rumah, tidak lupa bilang ke majikan kalau saya dapat makanan diberi teman.

“Wah, orang kerja saja makanannya mewah begitu…” Kata majikan tanpa berperasaan.

Saya tertawa saja sambil balik menawarkan makanannya “If you want it, just take. Do not mind, i will share with others…” Majikan melengos dan beberapa hari cemberut. Kesindir kali dengan satu lembar keripik kentang yang tempo hari saya makan.

Hanya anaknya yang paling kecil, yang mau makan dengan saya. Itu pun sedikit dan kalau kakak serta orang tua nya tidak ada.

Kalau saya kedapatan mengunyah, mereka selalu saling berbisik, saya ngerti mereka saling tanya yang saya makan itu apa. Saya tidak mempermasalahkan. Toh sudah bilang kalau saya punya stok makanan sendiri. Meski saya ada sakit hati mereka pikir saya mencuri makanan mereka.

Kini hampir dua puluh tahun kemudian, saya suka senyum sendiri kalau ingat masa-masa itu. Saat anak minta dibelikan Pringless, saya tidak pernah menolaknya. Saya tidak ingin mendidik anak seperti anak majikan yang dididik orang tuanya dalam serba tekanan. Meski tentu saja saya tidak memanjakan anak. Toh anak pun tidak sering minta dibelikan jajanan seperti itu.

14 thoughts on “Tentang Keripik Kentang dan Masa Kerja di Hougang

  1. Banyak banget loh kisah kayak gini, hal-hal sepele yang jadinya malah luar biasa ya teh.
    Yang lebih parahnya, bahkan makanan sekecil itu jadi masalah, kadang saya sungguh tidak mengerti pola asuh orang-orang kayak gitu, ckckckc

  2. Waw saya baru tahu mba, untuk selembar kripik saja jadi masalah buat ibu bos hehe. Pengalaman seperti itu pasti membentuk teh Okti jadi Ibu yang bijaksana ya ๐Ÿ™‚ Btw, aku kok jadi penasaran sama rasa kripik kentangnya hehe :p

  3. Si bungsu justru baik hati sekali. Meskipun udah diajarkan nilai baik di sekolah tapi kalo orang tuanya ngga mendukung, malah sebaliknya seperti itu ya percuma juga ya.
    Bertahan berapa lama kerja disana mba? Sungguh pengalaman luar biasa

  4. Huhuhu kayak dipandang sebelah mata dikira gak bisa beli sendiri gtu ya ๐Ÿ™
    Padahal di sini ya kyknya makanan biasa aja bukan sesuatu yang wow banget ya mbak. Mungkin anggapannya Indonesia tu negara miskin gtu kali ya hiks

  5. Lucu pengalamannya mba, tapi memang harganya lumayan juga sih untuk ukuran segitu. Aku termasuk agak pelit kalau soal jajan yang menurutku harga gak sebanding dg gramnya. Sekali-kali mau juga sih, untuk memanjakan diri hihihi

  6. Masya Allah.. didikan sekeras itu sayangnya dalam hal keburukan ya, Mbak.. mendidik pelit. Sungguh menyedihkan. Semoga kita semua terhindar dari hal seperti itu.
    Btw, si bungsu itu sekarang sudah gedhe kali ya, Mbak? Berubah gak ya sifatnya? Hehe. Kepo saya.

  7. Saya suka banget nih makan keripik kentang, eh tapi nggak ada pengalaman tertentu sih dengan cemilan yang satu ini.
    Ada ya orang yang pelitnya sampai segitu. Pelit sampai dipelihara ckckc, padahal cuma memberi satu lembar kripik saja sampai dipermasalahkan segitunya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *