Duka Dalam Kehilangan

Duka Dalam Kehilangan

Duka Dalam Kehilangan

 

Kita sama-sama berduka dalam kehilangan, Wie…

Baru beberapa hari lalu, saya bilang kepada Wie, teman yang menghubungi saya secara pribadi, kalau saya tidak bisa ikut acara ngaliwet, ketemu bersama teman saat sekolah di sebuah restauran di kota.

Alasannya apalagi kalau harinya bentrok dengan hari dimana suami harus terapi ke Sukabumi. Ya, kecelakaan yang dialami suami yang menyebabkan tangan kirinya patah, mau tidak mau harus rutin berobat ke ahli tulang. Karena itu jelas kalau saya tidak mungkin bisa ikut acara reuni kecil-kecilan yang kadang gak jelas juga acaranya apa, selain cuma makan-makan.

Kami memang tidak terlalu dekat saat sekolah mengingat beda jurusan. Tidak pernah satu kelas. Tapi seringkali interaksi di group membuat kami terbiasa berhaha-hihi bersama. Jauh meski dekat, dekat meski jauh. Kami tinggal beda kecamatan, jarak sekitar 1,5 jam kendaraan.

Saya juga bilang, kalau saja rumah saya di kota tidak dimasuki maling, saya dan suami bersedia “menampung” teman-teman yang mau ketemuan itu. Jadi tidak usah di restoran macam rencana pada akhirnya. Daripada susah nyari tempat, atau “memaksa” teman kami yang lain padahal sudah dijelaskan –diakui si empunya– rumahnya belum selesai.

Tetapi itu tadi, tanpa saya dan suami duga, selama suami sakit dan kami fokus pada pengobatan tangan suami di Pagelaran, sampai sebulan lebih kami tidak pulang ke rumah di kota. Ternyata selama itu rumah disatroni maling. Dan yang bikin ngenes, semua barang yang ada di rumah habis digasaknya! Mungkin itu maling berkali-kali datang untuk mengambil semua barang yang ada.

Mungkin hanya sekali datang kalau cuma ngambil peralatan elektronik. Tapi ini, semua barang yang ada di rumah habis diangkutnya. Mulai elektronik seperti laptop, hp sama charger nya, kamera digital, setrika, blender, juicer, power bank, sampai alat rumah tangga seperti rak piring sama piring nya, kompor gas sama tabung gasnya, ketel masak air, wajan anti lengket, termos, dispenser, rice cooker, tupperware, sampai mesin penyedot pompa air juga raib dibawanya.

Belum lagi pakaian saya dan pakaian suami habis. Padahal tahu sendiri, mau naik gunung, mau menghadiri event, atau kemanapun kami selalu start dari rumah di kota. Gak salah kalau pakaian yang lumayan-lumayan yang kami simpan di sana. Termasuk jaket dan celana favorit saya dan suami. Sekarang habis deh semuanya. Sampai kaos dari gudibeg acara Kompasiana dll –yang pasti ketahuan kalau dipakai karena se Cianjur kaos event blogger dan sejenisnya itu hanya saya dan suami yang punya– pun ikut hilang dicurinya.

Itu maling santai banget deh sampai karpet ukuran 4×3 meter yang digulung pun berhasil dibawanya. Ikut hilang juga sepatu baru saya dan sepatu suami, dua pasang sendal gunung saya, sampai yang lebih menyedihkan, mainan Fahmi putra kami semuanya dicuri. Fahmi terisak ketika mendapati semua kardus mainannya acak-acakan dan sudah kosong. Ya Allah itu maling bagai orang pindahan saja.

Percaya atau tidak, jemuran yang dirakit saja, itu sudah dibongkar dan mungkin akan dibawa juga. Payung dan beberapa barang pecah belah sudah dipacking dan ada di belakang, mungkin kalau kami tidak keburu datang, barang yang masih ada di rumah itu akan segera dibawanya.

Kondisi rumah bener-bener sudah kosong dan berantakan saat kami datang. Posisi pintu dan jendela sudah tidak terkunci lagi. Kami periksa, kunci jendela kamar yang dibobol sehingga patah dan mereka para maling bisa leluasa keluar masuk dari situ.

Melongok ke kamar mandi, shampoo botol yang saya ingat baru beli juga sudah lenyap. Yang tersisa di rumah dalam kondisi berantakan adalah pakaian Fahmi dan beberapa jilbab saya. Ya Allah, sediiih banget saya saat itu. Kok tega banget menggasak dan menjarah rumah orang seperti itu?

Rumah saya sekarang lengang. Kosong. Nelangsa banget ketika pulang kami harus beli air mineral untuk minum karena di rumah tidak bisa masak air. Kompor dan ketel digondol maling. Begitu juga dispenser. Masuk ke rumah hanya bisa dipakai untuk berteduh saja. Tanpa ada perabot apapun. Saya gigit jari. Makanya saya bilang ke Wie ,teman saya yang japri saya itu, saat mereka mau mengadakan acara kumpulan, saya tidak bisa menawarkan tempat. Karena kondisinya yang tidak memungkinkan. Kalau di rumah tidak ada apapun, sudah saja bikin pertemuan di teras masjid. Tidak ada bedanya, bukan?

Teman saya sangat berempati dan merasakan kesedihan saya. Saya tahu ia berdoa yang terbaik buat kami karena mengetahui musibah yang bertubi-tubi menimpa kami. Mulai suami kecelakaan sampai kemalingan.

Rasanya plong ketika tanpa sengaja saya curhat, ada reaksi berempati atas apa yang terjadi kepada kami. Mungkin itulah yang dinamakan teman saat senang maupun saat susah. Dan teman seperti itu sangat susah lho.

Disibukkan dengan pengobatan suami, mengurus anak dan rumah tangga, juga aktivitas sehari-hari demi bisa menambah-nambah penghasilan buat memenuhi berbagai kebutuhan, membuat saya tidak banyak menengok group lagi. Apalagi membaca satu persatu komentar yang masuk. Saya filter demi bisa memaksimalkan mana yang harus saya prioritaskan.

Sampai tadi pagi, saya penasaran dengan notifikasi group. Sekilas bisa saya baca ada kalimat “Semoga tabah”.

Saya pikir jangan-jangan ada yang meninggal, saya pun penasaran dan membaca semua pesan yang tersisa setelah sebelumnya saya clear chat itu.

Ya Allah, pesan gambar dan video sebuah rumah bertingkat kebakaran. Dan itu rumah Wie, teman saya yang beberapa hari lalu saya dan dia ngobrol banyak tentang simpati dan empati akan musibah serta kehilangan itu.

Video Player

00:00
00:08

 

Teman-teman di group satu angkatan ramai membicarakan rumah teman kami yang kebakaran itu. Saling memberi informasi, khususnya dari beberapa teman yang rumahnya berdekatan (satu kecamatan) dan sebelum jumatan menyempatkan menengok ke lokasi kejadian.

Saya sendiri ketar-ketir membaca setiap pesan yang masuk di group. Terus mengupdate informasi. Serta tidak lupa berdoa semoga keluarga teman saya itu baik-baik saja.

Ashar setelah agak longgar, saya kembali membuka group dan mendapatkan kabar jika rumah teman saya itu bagian atas habis beserta isinya. Lantai dasar sebagian rusak, sebagian perabot berhasil diselamatkan warga. Saat kejadian teman saya dan suaminya sedang mengajar. Jadi tidak ada orang di rumah. Adapun penyebab kebakaran diduga dari aliran listrik.

Alhamdulillah, keluarga teman saya sehat selamat. Setidaknya itu yang bikin saya tenang. Saya tidak menghubungi teman saya itu karena tahu toh sedang berduka, bukan saat yang tepat.

Tidak lama masuk japrian dari teman satu angkatan lainnya, yang menginformasikan teman-teman dimintai keikhlasannya untuk menggalang dana.

“Kasihan lho Tie, sampai semua habis. Pakaian aja semua habis terbakar. Yuk kita bantu,” pesan teman saya.

Siap. Jawab saya segera. Bukan karena saya punya, tetapi karena saya juga merasakan. Betapa sakit dan sedihnya tiada tara bagaimana rasanya kehilangan.

Baru beberapa hari lalu saya curhat ke dia, saya kehilangan banyak di rumah. Kini giliran saya mendapat kabar jika teman saya juga telah mengalami kehilangan harta benda nya.

Tuhan sudah menegur saya dengan mendatangkan musibah rumah disatroni maling. Dan saya sangat merasakan pasti lebih pedih dengan musibah yang menimpa teman saya, rumah kebakaran.

Wie, yuk kita saling menguatkan. Saya percaya kamu pasti bisa melalui semua ujian ini.

14 thoughts on “Duka Dalam Kehilangan

  1. Ya Allah, sekejap aja api bisa menghanguskan semua sampai ga bersisa gitu ya.
    Ga bisa aku bayangkan mba kalau aku jadi korban kebakaran. Syukur alhamdulillah ada org-org berhati lembut yang bisa saling menguatkan kala nestapa melanda. Semangat selalu ya mba sayang

  2. Ya Allah teteh aku bacanya sampek merinding. Cuma kata sabar yang bisa aku sampaikan, Allah sayang banget sama teteh dan keluarga. Semoga Allah mengganti semuanyaa yaah teh. Aamiin. Semangat terus teteh dan keluarga 🙂

  3. Ya Allah aku ga bisa komen macam2 teh selain cuma bisa berkata Yang sabar dan tabah ya buat teh Okti dan temannya. Semoga Allah SWT memberikan rezeki pengganti yang banyak dan bekah aamiin YRA

  4. Ya Allah, to be honest aku selalu lemes kalau dengan kata kebakaran, kaya punya trauma tersendiri gitu 🙁 yang kuat ya temen nya, mba juga harus kuat ✨.

  5. Innalillahiiiii.. Teteh ngiring berduka ya atas kehilangannya, begitupun dengan teman Tth yang juga sedang mengalami musibah. Insya Allah akan digantikan dengan yang lebih lagi, Amiiiiin Ya Rabb. Untuk Suaminya juga semoga cepat pulih lagi kakinya.

  6. Ya Allah Teh, itu rampok ya yang datang ke rumah Teteh bener-bener membawa semuanya ya sampai mainan aja dibawa dan pasti kaget banget ketika masuk rumah dalam keadaan kosong semuanya

    semoga teteh dan juga sahabatnya diberi kesabaran dan juga ganti yang lebih baik lagi Aamiin

  7. Lā haula wa lā quwwata illā billāhil ‘aliyyil azhīmi , kuat selalu ya Teteh Okti dan Teh Wie insyaAllah ada hal-hal positif dan tetap berbaik sangka pada Allah. InsyaAllah ada kebaikan besar yang datang kemudian, aamiin. La Tahzan

  8. Innalillahi. Ya Allah teh Okti. Teh semoga selalu diberikan kekuatan dan ketabahan. Maling itu dapat hidayah juga. Insya Allah secepatnya diberikan rezeki lainnya ya teh. Suami juga semoga cepat pulih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *