Melepas Anak Saat Lebaran

Melepas Anak Saat Lebaran

“Ayah, Ami mau nginap di Mama. Boleh ya?” Rengek Fahmi kemarin, hari lebaran pertama. Ayahnya hanya ketawa.

Saya sendiri tentu saja heran. Fahmi mau menginap di neneknya? Itu kemauan dia sendiri lho. Padahal sebelumnya kalau libur sekolah selalu kami sarankan untuk menginap di rumah mamah (panggilan kepada neneknya, ibu saya) selalu dia tidak mau. Bahkan sering ngamuk-ngamuk.

Yang bikin saya bingung juga dia gak bawa baju ganti atau bekal apapun karena sebelumnya tidak mengira akan menginap. Kami setelah sholat Ied lalu silaturahmi dengan tetangga terdekat dan cuss langsung ke rumah mama.

Sementara ayahnya (memang jarang ngomong) hanya bisa diam. Cuma terdengar nyeletuk kalau tidak ada Fahmi, nanti ayah di rumah sendiri, tidak ada teman. Gitu katanya…

Itu anak dan bapak emang seperti kucing dan gogog kalau ada di rumah. Maksudnya satu sama lain sering saling jahilin. Suka bertengkar meski main-main. Tapi giliran ga ada seorang, yang satu pasti merasakan kehilangan. Ha-ha-ha. Kalau ayahny belum pulang dari sekolah atau manapun, Fahmi pasti selalu bertanya ayah kemana, ayah kok belum pulang.

Tapi pas ayahnya sudah sampai rumah yaitu tadi, sering cekcok dan sering nangis sambil ngusir-ngusir ayahnya gitu. “Kaditu ayah mah. Ayah mah pelit. Ayah mah galak.” Dan kalimat sejenis lainnya. Lucu pokoknya kalau melihat tingkah laku mereka.

Karena begitu juga ayah Fahmi, sepulang dari rumah mama, gak banyak bicara. Biasanya kalau mau adzan, suka ribut sama Fahmi. Kali ini diam saja. Cuma lewat doang langsung ke masjid. Tidak ada drama drama seperti saat ada Fahmi. Sepi.

Sampai malam tiba TV yang biasanya nonstop menyiarkan Ultraman dan Tobot tidak disetel sama sekali. Saya yang sakit kepala memilih tidur awal. Ayah Fahmi entah baca buku entah main apa. Yang pasti sepi. Padahal biasanya mereka kali ada selalu ribut tidak mau kalah kalau main bersama.

Hari ini hari lebaran ke dua, Fahmi masih di rumah neneknya. Saya telepon sih mama bilang Fahmi biasa saja. Main sama Amanda sepupunya yang usia beda 6 bulan, makan, tidur siang dan jalan jalan bersama. Senang pastinya.

Sementara seharian ini saya gogoleran saja di rumah. Ayah Fahmi juga saya lihat diem aja. Sesekali saya intip sedang main game di Ipad yang biasa Fahmi mainkan. Entah karena hape nya mati, atau memang kangen anak juga rupanya…

Sepi, seharian saya hanya tiduran, ayah Fahmi baca buku

Setelah makan barusan, kami kembali saling diam. Kembali ke dunia masing-masing. Padahal dalam hati saya yakin, ayah Fahmi masih merasa kesepian. Padahal baru pisah mau 2 malam saja. Gimana nanti kalau beneran Fahmi mau berangkat mondok, ya?

Aduh, saya sendiri baru membayangkan saja sedih jadinya… Jadi memang bener, anak satu saja mah masih kurang…

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *