Ngabeubeurang Bulan Ramadhan

Ngabeubeurang Bulan Ramadhan

Ngabeubeurang di Bulan Ramadhan

Ngabeubeurang. Istilah ini pasti masih asing bagi kaum milenial. Beda dengan istilah ngabuburit yang sudah menasional bahkan mendunia. Yuk yang penasaran dengan istilah ngabeubeurang, simak drama pagi pertama Fahmi, putra saya, di tanggal 1 Ramadhan 1440 H ini.

Bulan puasa kali ini adalah kali kedua bagi Fahmi belajar berpuasa. Ya, meski belum wajib tapi kebiasaan di kita, anak kecil pun banyak yang sudah belajar berpuasa kan ya. Termasuk Fahmi.

Tahun lalu Fahmi puasa setengah hari. Lalu lanjut lagi sampai magrib. Banyak notifikasi muncul di media sosial terkait kisah lucu dan berkesan terkait belajar puasa Fahmi pertama kali. Yah maklum anak, masih polos dan belum banyak mengerti. Jadi banyak kisah lucunya. Semua saya update di media sosial dan itu pastinya bukan untuk riya’, naudzubillahimindzalik. Lebih ke sebagai catatan anak, kelak besar bisa jadi kenangan dan reminder bagaimana perjalanan ia memulai semua itu. Seperti belajar puasa ini. Asyik aja kan kita bisa baca lagi kenangan yang sebenarnya tidak kita ingat, lalu tiba-tiba muncul di notifikasi.

Yuk balik lagi ke istilah ngabeubeurang. Jadi kalau ngabuburit itu menanti waktu buka di soré hari (burit artinya sore, dalam bahasa Sunda) misal kita ambil mudahnya waktu ngabuburit itu dari duhur ke magrib. Nah ngabeubeurang ini adalah waktu menunggu siang, antara subuh sampai duhur. Beurang dalam bahasa Sunda artinya siang.

Kenapa ada istilah ngabeubeurang? Ga tahu lazim apa enggak aih, hanya bagi saya yang sedang melatih Fahmi untuk berpuasa, istilah ngabeubeurang ini sudah 2 tahun ini kami pakai.

Bangun pukul 3 dini hari, Fahmi kadang makan sahur kadang tidak. Saya tidak memaksa. Namanya juga anak. Dewasa saja kalau tidak terbiasa dan tidak ingat niat, malas gitu kan ya makan jam segitu. Subuh tiba, bareng ayahnya Fahmi langsung ke masjid, baru pulang sekitar jam setengah enam.

Tudak langsung tidur, meski saya suruh untuk tidur kembali jika tidak sekolah. Nah disinilah masalah eh drama pagi puasa Fahmi biasa dimulai.

Terbiasa jam enam pagi sarapan, maka jam sekitaran itu mungkin Fahmi merasa lapar. Meski sudah sahur, dan tahu akan berpuasa tapi Fahmi mulai merengek. Maksudnya ya mau minta makan, minum, gitu deh.

Tentu saja ini tantangan sekaligus pembelajaran tidak hanya buat anak, tetapi juga bagi saya selaku orang tua sebagai bentuk tanggung jawab dalam mendidik anak berpuasa. Jaman saya dulu, waktu masih ada almarhum bapak, setelah subuh langsung tadarusan dan diajak ngabeubeurang dengan segala macam cara. Sebagai cara untuk mengalihkan perhatian dari rasa lapar dan haus. Nah cara itu pula yang saya tetapkan kini kepada Fahmi.

Saat matanya mulai berkaca-kaca, segera saya tanya Fahmi suka main apa? Meski masih dengan wajah ditekuk dia jawab main sepeda.
“Yuk main sepeda sama ibu ditemani. Tapi pelan saja jangan ngebut ya…”
Diam saja. Lima menit, sepuluh menit, akhirnya dia yang ngajak saya lagi. “Ibu ayo atuh main sepedanya.”

Segera saya tinggalkan cucian dan nutur-nutur Fahmi bersepeda. Yes! Ia mulai lupa dengan laparnya.

“Jangan ngebut. Nanti capek. Haus. Ingat kan lagi berpuasa. Belum boleh makan minum sebelum magrib.” Selalu saya ingatkan itu.

“Iya Bu, Ami tahu…”

Sejam kemudian, bosen main sepeda. Mulai merengek lagi. Intinya sih minta makan dan minum.

Saya coba alihkan lagi perhatiannya. Ngajak duduk di hammock sambil kasih makan ikan, melihat laba-laba yang sarangnya berembun, tersorot sinar matahari jadi berkilau indah, main pasir di halaman, dan banyak lagi kegiatan lain dengan intinya untuk mengalihkan perhatian anak supaya lupa dengan lapar dan hausnya.

Tahun lalu, ngabeubeurang seperti itu cukup éféktif dalam mengajak Fahmi belajar puasa sampai duhur tiba. Seminggu dua Minggu masih begitu. Setelah lewat setengah bulan, mungkin sudah terbiasa akhirnya tidak ada lagi drama pagi yang bikin heboh itu.

Dan tahun ini drama ngabeubeurang kembali harus terulang. Tadi jam 6, Fahmi hampir mau minum. Ia terbiasa sih minum dan sarapan jam segitu. Saya lihat dan segera saya alihkan perhatiannya. Mengajaknya bermain kartu, cerita-cerita sambil main mobil-mobilannya, minta dielus punggung dan perutnya sampai ia berhasil tertidur.

Ya Allah, semoga belajar puasa hari pertama untuk Fahmi berjalan dengan lancar. Semoga anak hamba dikuatkan dan diberi kesadaran.

Sekitaran jam setengah sebelas ia pasti merengek lagi. Itu waktu ia makan sepulang dari sekolah, biasanya. Saya harus cari cara ngabeubeurang lainnya biar ia bertahan sampai duhur. Kalau sudah pulang dari masjid berjamaah duhur biasanya ia tidak terlalu rewel. Karena sudah ketemu teman-teman berjamaah dan biasanya suka saling tanya siapa yang udah batal puasanya?

Karena malu di depan teman-teman biasanya anak akan mencoba bertahan, ya kan? Dan setelah duhur biasanya Fahmi tidur siang sampai ashar. Semoga sore nanti semuanya lancar. Sehingga sampai selesai mengaji (Oya, kalau  bulan puasa jadwal mengaji anak santri di rumah dipindah dari setelah ashar sampai jam 5 sore) ia tetap bisa menahan haus dan lapar.

Ngabeubeurang menunggu duhur sampai tertidur

Pengalaman tahun lalu kalau sudah lewat ashar anak malah ceria. Selain bisa ngabuburit bareng dengan teman-temannya, ayahnya juga jika cuaca bagus suka mengajaknya berpetualang dengan membawanya jalan-jalan keliling kampung, bahkan sampai ke luar desa.

Jelang buka puasa, baru mereka pulang. Mandi dan istirahat sebentar sambil nunggu adzan biasanya sambil nonton tv atau duduk di teras melihat barudak yang sedang ngabuburit bermain di lapangan halaman masjid.

Itulah istilah ngabeubeurang sebagai salah satu perjuangan saya dalam mengalihkan perhatian anak yang sedang berpuasa mulai subuh sampai duhur tiba.

Semoga hari pertama puasa ini Fahmi bisa tamat sampai buka puasa magrib dan ikut buka bersama dengan kami. Amin.

7 thoughts on “Ngabeubeurang Bulan Ramadhan

  1. Hello! indungbageur.my.id

    Sending your message through the Contact us form which can be found on the sites in the contact section. Contact form are filled in by our software and the captcha is solved. The profit of this method is that messages sent through feedback forms are whitelisted. This technique increases the odds that your message will be read. Mailing is done in the same way as you received this message.
    Your commercial offer will be open by millions of site administrators and those who have access to the sites!

    Sorry to bother you.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *