Pendulum

Pendulum

Tidak ada ikatan darah, tidak ada hubungan dekat, hanya sebatas ikatan kerja yang pernah dijalaninya sekitar 8 tahun lalu. Tapi kenapa semua kehidupan yang dialami oleh An, mirip dan juga dialami olehnya? Ada komunikasi di alam bawah sadarkah diantaranya?

Li hanya menarik nafas. Mencoba tidak menghubung-hubungkan kehidupan An dengan dirinya. Meski banyak sudah kesamaan yang ia sendiri akui. Tapi untuk yang satu itu: perceraian, Li sungguh tidak sanggup bahkan untuk sekadar membayangkannya.

Sedikitpun Li tidak pernah membayangkan jika rumah tangga majikannya hancur setelah ia empat tahun meninggalkan mereka. An bercerita di tengah sepinya malam disertai cucuran air mata tentang penceraian yang ia pilih setelah sekian belas tahun dipertahankan nya, hanya karena demi anak-anak mereka, yang diasuh olehnya.

Li tahu kalau rumah tangga An tidak harmonis. Ada ketidak cocokan lagi antara ia dan suaminya, Chan. Hanya Li tahu kalau An dan Chan masih tinggal serumah demi keharmonisan di mata anak mereka, yang sudah Li anggap anak sendiri juga.

Chan yang kuper, menurut An, meski Li melihat Chan cukup perhatian dan penyayang. An yang tidak menghormati keluarga An, béda dengan perlakuan terhadap keluarganya sendiri, menurut An, meski Li merasa Chan bersikap demikian karena orang tua Chan memang termasuk kurang berada, berpendidikan rendah, dan menggantung kan kehidupan mereka kepada Chan, satu-satunya anak laki-laki di keluarga mereka. Sementara An berasal dari keluarga cukup, ditambah orang tua An termasuk masih produktif, pengusaha di daerah asalnya.

An dan Chan berjalan bersama saat bersama anak mereka. Namun Li tahu, mereka berada di dua dunia yang jauh berbeda. Ada jurang yang memisahkan mereka, yang tidak sanggup ditutupi meski oleh kekuatan cinta. Terlebih An pernah berkata, “Cinta itu sekarang sudah tidak ada dan tidak lagi bersisa…”

Benarkah?

Li awalnya tidak bisa membayangkan seperti apa maksud dari cinta itu sudah tidak ada lagi seperti yang dikatakan An. Hingga kini Li merasakannya sendiri.

Rumah tangganya berada di ujung tanduk mirip dengan apa yang ia saksikan dulu terhadap An. Li tidak menyangka jika apa yang dialami An, kini semua ia alami sendiri.

Li mempertahankan dirinya tetap berada satu atap bersama Ne, lelaki yang di buku nikah masih tercatat sebagai suaminya, demi anak semata wayangnya yang belum mengerti apa-apa. Li kadang merasa berada di rumah seperti menginjak duri. Menyakitkan dan tidak betah. Li mencoba bertahan dengan sisa-sisa kesabaran berharap ada hidayah atau mukjizat yang bisa memutar balikan hati Ne.

Sejak lama Li sudah merasa apa yang dirasakan An mulai ia rasakan juga. Ne yang tidak lagi mau berlama-lama jika mengunjungi ibu mertuanya, Ne yang mudah tersinggung dan menyimpan dendam hingga meski ia berubah baik tapi bersiap lah suatu saat kemarahan yang pernah ia timbun itu akan digalinya kembali dan mencuat lebih dahsyat. Ne yang di depan orang lain menyembunyikan keburukannya dengan sifat pendiam nya namun dalam pandangan Li sudah menjadi bongkahan es batu yang suatu saat mencair maka akan lenyap tidak berbekas.

Li sudah lelah dengan semuanya. Li sudah berpikir biduk rumah tangganya akan berujung sama seperti yang dialami An, perceraian. Li bahkan telah berangan kemana ia akan membawa diri manakala keputusan terpahit itu keluar dari mulut Ne. Tapi Li hanya diam. Berusaha bahagia dan tidak ada masalah di hadapan siapapun, kecuali Ne.

Li menggigit bibir manakala Ne terus menerus memutar sebuah lagu bertemakan perceraian seharian itu. Meski ia bisa menerima dan dapat mengikhlaskan nya namun hatinya tidak tega manakala buah hati yang sangat disayanginya hanya bisa terdiam, polos berceloteh riang di antara keduanya.

An, jika kamu bisa lebih bahagia bersama anak-anak setelah lepas dari Chan, kenapa aku tidak? Kita tidak ada ikatan batin, tapi pembelajaran bisa kita dapat dari mana saja, bukan?

ULAH CEURIK

Penyanyi : Deddy

Cag didieu
Cag seumeut dieu
Lalakon cinta nu urang

Teup anteupkeun
Tong di guar deui
Carita cinta nu peugat

Najan ka gandrung sa gunung
Najan duriat sa jagat
Kadeudeuh nu nyangreud
Ahirna urang pipisah

Rek ka saha
Rek ka urang mana
Geura milari geuntosna

Cig ka kidul
Cig ka kaler
Ngulon ngetan moal nyaram

Tos teu aya kakaitan
Antara urang duaan
Lain anjeun lain akang
Urang geus lain lainna
Lain….

Ulah ceurik
Tong diceungceurikan
Tarimakeun janten rangda
Akang pasrah jadi duda
Da geuning kieu kuduna
Urang teu bisa kumaha

Ulah ceurik
Tong diceungceurikan
Wayahna urang papeugat
Najan hate masih beurat
Pileuleuyan, pileuleuyan
Hampura, Akang hampura..

13 thoughts on “Pendulum

  1. Huahahaha aduh asa nineung eta lagu ulah ceurik :))
    Nuansa cianjur pisannnn….btw itu kisah Li An sama Ne obrolanna meni berat nya Teh Okti hihihi dialogna

  2. Duh, aku kok sedih ya bacanya. Jangan sampai berpisah dong Li, Ne. Demi anak-anak kalian. Coba deh ingat lagi gimana manisnya awal mengarungi kehidupan berdua. Heheheh…
    Duh lagu eta, aku udah jarang denger. Sekalinya denger asa gimana kitu tah. Kalo ke Ampera sering denger. :))

  3. Waah cerpennya bagus teh Okti, meuni asa jadi meresep gitu terbawa alur cerita, biduk rumah tangga memang begitu ya ada saja baru terjal yang mesti dilewati

  4. Wah, aku pikir malah kakak lagi review buku tentang keluarga Tionghoa karena namanya Li dan an. Keren lho cerpennya tentang keluarga… Keep writing

  5. Teh, please itu lagunya di translate ke bahasa indonesia hehe.. cerita diatas memang bisa dialami siapa saja ya teh, semoga segera menemukan jalan terbaik untuk permasalahan mereka, dan kita semua tetap menjadi pribadi yang menyenangkan dengan niat baik dan perbuatan baik, InshaAllah hasilnya baik juga ya teh

  6. Suka bacanya, ringan dan ini yang sering terjadi di lingkungan kita, bahkan orang2 terdekat, yg ada disekitar kita ya Teh. Ditunggu kelanjutan ceritanya lagii Tehh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *