Tragedi Lampu

Tragedi Lampu

 

Antara Keuntungan, Ikhlas dan Emosi

Pernah suatu ketika menyaksikan anak gadis ABG yang sedang datang bulan hendak ganti pembalut di kamar mandi. Mungkin karena tidak sengaja, pembalut barunya jatuh dan tidak bisa dipakai lagi. Ia menangis dengan sangat menyesal. Katanya satu pembalut itu kalau diuangkan berapa sen. Ia telah membuang-buang uang tanpa ada sebab.

Saat itu saya hanya berpikir nih anak pelit banget, sama seperti orang tuanya. Kerugian besar kalau ada sesuatu yang meski tanpa sengaja tidak mereka rasakan manfaatnya. Orang tua akan memarahi anaknya habis-habisan hanya karena makanan yang sedang mereka santap tiba-tiba jatuh tidak sengaja.

Pernah juga mendengar cerita kalau seorang pedagang sangat detail dalam menghitung pemasukan dan pengeluaran. Uang seratus rupiah pun sangat mereka pertahankan. Istilahnya beda lagi dalam soal memberi dan bisnis. Memberi seribu meski jarang dilakukan tapi ada embel-embel ibadah dan dermawan. Dalam bisnis, selisih seratus rupiah akan mereka pertahankan karena dari sana keuntungan usaha yang mereka dapat. Seratus rupiah dari satu batang, kalau banyak kan bisa jadi berapa puluh ribu…

Istilah untung, rugi, memberi, bisnis dan emosi ini selalu saya perhatikan. Berbagai kondisi dan karakter saya tautkan satu sama lain. Mungkin karena beda kondisi maka semua punya alasan masing-masing, meski kata orang hal itu kebangetan.

Barusan saya baru saja mengalaminya. Kesal marah dan penyesalan nya seakan masih terasa. Meski semua sudah saya ikhlaskan karena saya sadar itu semua hanya siklus hidup.

Sering mati listrik bikin saya jengkel karena semua aktivitas jadi terhambat. Untuk coba meminimalisir saya berniat mengganti lampu depan dengan lampu charge. Meski agak mahal tapi kan sesuai dengan manfaatnya. Saya berniat lampu yang ada nanti akan dipindahkan buat menerangi lampu di kamar atas.

Setelah berencana dan menabung hingga mencukupi akhirnya saya berkesempatan membeli lampu charge yang dimaksud. Saya pasang dan meminta anak untuk memegang lampu lama, sesaat ketika saya memasangkan lampu yang baru.

Ketika sedang memasangkan lampu baru, tiba-tiba terdengar bunyi sesuatu barang pecah. Saya lihat ternyata lampu yang saya kasih ke anak tadi, itu sudah jatuh di lantai dan tentu saja pecah.

Ya Allah sedih dan marah semua rasa bercampur saat itu. Saya bertanya kepada anak.

“Kenapa lampunya diletakan? Bukannya ibu bilang pegang. Pegang! Hanya sebentar. Lihat gara-gara dilepas jadi pecah. Tahu gak ibu tidak punya uang lagi buat belinya…”

“Tidak…ti..tidak…”

Anak hanya melongo. Namanya juga anak. Ia hanya bisa diam. Saya malah makin merasa sedih dan tidak bisa menahan air mata yang sudah terlanjur mengucur di sudut mata. Saya segera membereskan semuanya yang berantakan dan terduduk kemudian. Sendirian. Duh…

Terbayang senilai sekian rupiah yang baru saja saya keluarkan. Padahal untuk mendapatkannya harus kerja keras. Satu rupiah demi rupiah saya hemat demi bisa mencapai apa yang direncanakan. Tapi hanya sekedip mata, semua lenyap. Semua hilang. Semua percuma. Siapa yang tidak sedih?

Orang lain mempertahankan seratus dua ratus rupiah demi mendapatkan keuntungan yang berlipat dan menyejahterakan keluarganya. Saya dalam sekejap mata bisakah mengikhlaskan sekian banyak waktu dan nilai rupiah hanya dengan melalui tangan anak kecil yang belum mengerti akan apa yang baru saja dilakukannya?

Tidak mudah ternyata memberikan keikhlasan atas apa yang telah kita perjuangkan. Tidak bisa menebak apa alasan orang melakukan sesuatu hanya dengan dugaan dan perkiraan.

 

11 thoughts on “Tragedi Lampu

  1. Hai friend, keep these tips in mind if market or topic .

    To have home make overs. Use the following advice to create
    a successful hardware plan. What do you plan to do with all of that?

  2. Dalam hal tertentu saya pengen belajar dari para pedagang itu. Setiap rupiah selalu dihitung dengan cermat dan penuh perhitungan. Pantas aja ya mereka kelak menjadi orang sukses.

  3. Peluk jauh untuk teh Okty.. dari cerita tentang lampu, aku tersadarkan bahwa selama ini saya masih abai tentang uang.. masih sering ngga menghargai uang.. padahal ya cari uang itu susah.. tapi gampang banget ngabisinnya huhu.. kesabaran teh okty sangat luar biasa.. semoga aku juga bisa menjadi sosok ibu yang sabar dan ikhlas dalam menjalani kehidupan.. aamiin

  4. Saya sedih teh okti, suka kalah sama uang, kalah di sini artinya marah sama anak karena ada nilai rupih yang dia hilangkan baik sengaja maupun nggak, marah lalu sedih dan menyesal karena masih kalah sama uanh

  5. Uang dan ikhlas itu rasanya gimana ya menurut aku. Tapi buat aku memperlakukan uang itu juga dalam ya, jadi jangan di balik memang kita menghambakan uang. Noted teh.

  6. Saya sih kalau misalnya Marwah menjatuhkan makanan gitu emang suka agak sedih, saya jelasinnya bukan masalah uang, namun masalah keberuntungan, Kita beruntung bisa makan itu terus dijatuhin/dibuang sia – sia kan kasian, dluar sana masih banyak yang belum beruntung makan makanan itu, huhuhuh meski suka terbesit untung dan rugi juga sih.

  7. Ya ampun heboh banget ya, anak perempuan itu. Jadi kepo gimana orangtua mendidiknya. Kalau sudah musibah jatuh pembalut, ya ikhlas aja. Siapa tahu dapat rejeki lebih besar. Kadang hidup jangan terlalu perhitungan, kan hidup bukan matematika ya. Kalau semuanya dihitung. nanti rejeki ngk berkah.

  8. Ikhlas itu berat. Meski mudah diucapkan. Mudah2 seiiring waktu akan ikhlas juga. Moga tergantikan dengan pelajaran yang berharga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *