Wisata Cijampang dan Kritik Sampah

Sepulang sekolah saya kaget, baju dan sepatu Fahmi kotor kena lumpur. Beberapa bagian di pakaiannya basah pula.

“Ami kan baru pulang dari Cijampang, Bu…” ceritanya bersemangat. Cijampang adalah nama sungai yang cukup besar di pinggir desa tempat kami tinggal.

Setelah saya suruh ganti baju dan menyimpan sepatu ke belakang supaya bisa segera saya cuci, sambil duduk tenang saya gali lagi cerita Fahmi dengan menyodorkan beberapa pertanyaan.

“Dapat apa dari Cijampang?”

“Dapat batu…” katanya polos.

“Kok batu? Emang ngapain ke sungai segala? Sama siapa?”

“Setelah senam bersama, bu guru bilang anak-anak dan guru semua ikut ke Cijampang buat ngambil batu. Jadi pulangnya bawa batu…”

“Oh, gitu ya. Ami lihat gak di sungai ada apa aja?”

“Banyak, Bu. Ada air, ada batu, ada pasir, ada sampah juga!”

“Sampah? Masa sih? Emang boleh simpan sampah di sana?”

“Iya Bu, banyak sampah. Padahal kan gak boleh buang sampah sembarangan. Apalagi ke sungai, nanti bisa bikin banjir. Bu guru juga bilang kita tidak boleh buang sampah sembarangan.”

“Iya benar. Kita tidak boleh buang sampah sembarangan apalagi ke sungai. Eh! Jadi Ami bawa batunya gak?”

“Bawa. Satu kresek. Batunya udah disimpan di sekolah. Bu guru bilang mau dibuat hiasan taman.”

“Selain buat hias taman, batu bisa buat apa lagi, ayo?” Saya memancing daya pikir Fahmi.

“Bisa buat bikin rumah. Bisa buat bikin jalan, bisa buat simpan di jari, kaya punya kakek.”

Saya senyam-senyum saja mendengar jawaban Fahmi. Maksud tuh anak batu bisa disimpan di jari, maksudnya cincin. Saya ingat, waktu lagi ramai-ramainya orang di kampung pada buat cincin batu akik, Fahmi pernah tanya-tanya soal itu. Termasuk bertanya kepada seorang kakek tetangga kami, yang punya cukup banyak koleksi cincin batu akik.

“Ya sudah sekarang istirahat dulu, sebentar lagi kita kerjakan pekerjaan rumahnya ya.”

“Horeee…” Fahmi berlari ke teras mendekati kucing kami yang sedang berjemur. Langsung terdengar ocehannya, ngajak ngobrol kepada binatang peliharaan kesayangannya itu.

Setelah duhur, saya mendapat pesan whatsapp dari guru kelas Fahmi. Semacam laporan kalau tadi pagi Fahmi dan semua murid outing ke Sungai Cijampang.

“Pemikiran Fahmi sudah luar biasa. Dia bisa mengkritik ketika melihat sampah yang dibuang ke sungai. Katanya siapa ini yang buang sampah ke sungai? Tidak boleh. Bahaya nanti bisa banjir…” begitu kata wali kelas Fahmi, menceritakan perkembangan Fahmi sejauh ini.

“Bekal minum dan susunya juga habis, Bu. Mungkin haus dan jalannya bikin capek jadi semangat dan lahap” lanjut cerita wali kelasnya.

Saya senyum sendiri saja menanggapinya. Memang setiap hari Sabtu, kalau cuaca bagus di sekolah Fahmi selalu ada acara outing, dimana Fahmi dan teman sekelasnya diperbolehkan mengeksplorasi apa saja yang ada di alam. Kadang mereka jalan ke kebun, ke sawah, ke sungai atau ke kantor instansi pemerintahan terdekat.

Sepulang dari acara itu saya selalu meminta Fahmi untuk menceritakan pengalamannya. Apa yang dilihat, apa yang terjadi, atau apa saja yang bikin dia tertarik dan punya pengalaman baru.

Sebagai penyeimbang dan masukan, saya juga minta kepada guru pembimbing untuk kembali menceritakan bagaimana sikap dan karakter Fahmi saat berada di luar sekolah itu dan bagaimana interaksinya.

Bagi sebagian orang, mungkin berpikir ah hal itu buat apa sih? Tapi bagi saya itu cukup penting. Saya ingin Fahmi yang punya sifat pemalu bisa jadi anak percaya diri, supel dan mandiri. Karena itu sejak dini selalu saya minta Fahmi bercerita, bercerita dan bercerita supaya dia terbiasa ngomong di depan umum dan bisa mengemukakan pendapatnya.

Tidak lupa juga saya selalu bekali Fahmi dengan SGM Aktif. Kalau di rumah ia minum SGM Eksplor, maka saat di luar rumah saya beri dia bekal susu kemasan yang siap minum.

Alhamdulillah, sejauh ini banyak peningkatan. Fahmi mulai berani cerita apa saja meski harus dipancing dengan berbagai pertanyaan lebih dulu. Semoga semakin bertambah usia semakin baik pula pertumbuhan dan perkembangan jiwa ragamu, ya Nak…

 

17 Comments

  1. Annafi

    19 November 2018 at 8:50 am

    Senang ya mba melihat perkembangan dek Fahmi, kerjasama dengan gurunya juga bagus, nanti kalau aku berkeluarga juga pingin begitu ah 😁 sehat terus ya dek Fahmi!

    1. Okti

      19 November 2018 at 10:14 am

      Iya mbak. Amin… Terimakasih.
      Semoga bermanfaat pengalaman receh ini ya…

  2. Ida Tahmidah

    19 November 2018 at 9:02 am

    Wah Fahmi udah pinter ya… Diajarin siapa dong ya …hehe…Anak laki2 memang cenderung ga banyak bicara jd kitanya hrs mau menggali. Neda klo perempuan ditanya A jawabannya bs sampai ke L xixixi..

    1. Okti

      19 November 2018 at 10:15 am

      Iya Teh. Saya banyak belajar dari keluarga Teteh. Makasih ya.
      Btw, saya juga jadi pengen punya anak perempuan ah, hehehe… Amin.

  3. Tati Suherman

    19 November 2018 at 2:35 pm

    Fahmi tambah gedebtambah pinter ya teh, seneng banget teh main di sungai yang bersih gitu

  4. Nefertite Fatriyanti

    19 November 2018 at 8:52 pm

    Waah pinter ya, semakin tereksplorasi bakatnya. Kadang memang ada anak yang pendiam ya, kalau nggak ditanya duluan enggak omong

  5. gita siwi

    19 November 2018 at 9:27 pm

    Anak adalah cerminan orang tuanya. Pasti Fahmi day by day perkembangannya ikut ayah ibunya. Go Fahmi jangan ragu bergerak dan berpendapat ya. Salam hangat dari onti Gita

  6. Ika Maya Susanti

    19 November 2018 at 10:33 pm

    Jadi kepikir kayak sekolah alam. Enak banget ya Mbak sekolahnya ngajak main ke sungai segala. Anak-anak diajak ke situ mah hepi banget jadinya…

  7. Utie adnu

    20 November 2018 at 6:27 am

    Bner banget cinta lingkungan dan kebersihan hrs ditanam sejak dini ya teh biar mereka lebih ngerti… Suka banget sama ilmunya

  8. Fenni Bungsu

    20 November 2018 at 7:59 am

    Selalu suka lihat artikel tentang Dek Fahmi yang semakin pinter dan kritis. Seperti Ponakan daku Teh, juga lagi kritisnya, jadi dapat masukan lewat bacaan ini.

  9. Elly Nurul

    20 November 2018 at 10:24 am

    Aku suka sedih banget kalo masih ada yang buang sampah di sungai, sungai itu harus kita lestarikan bukan tempat sampah, teh Fahmi tambah cerdas dan pinter ya.. Alhamdulllah nutrisinya tercukupi dengan baik ya.. rajin minum susu SGM ya ternyata.. favorit semua anak-anak deh

  10. Echi mustika

    20 November 2018 at 10:35 am

    Entah kapan terakhir aku main ke sungai, dulu waktu dikampung mama sering banget main disungai bahagianya masa kecilku

  11. sie-thi nurjanah

    21 November 2018 at 1:02 am

    Tapi sungainya bagus ya Mba, duuh emang miris sih. Sekarang sampah merajalela di area yang berkaitan dengan alam (Sedih)

  12. April Hamsa

    21 November 2018 at 6:33 am

    Wah Fahmi udah sekolah TK ya mbak?
    Keren Fahmi. Mungkin kapan2 ibu gurunya bisa ajak anak2 melakukan aktivitas/ aksi ranjau semut (kalau gak salah istilahnya gtu). Jd sambil jalan pulang anak2 bisa mengumpulkan sampah 😀

  13. Dwi Puspita

    21 November 2018 at 10:02 am

    Alhamdulillah, pinter banget ya…diusianya yang segitu dia sudah kritis. Emang perlu di asah agar tetap maksimal nih si kakak… yang pasti nutrisi otaknya juga jangan lupa…

  14. Tian lustiana

    21 November 2018 at 10:08 am

    Kangen main di sungai jadinya, dulu pas seusia Fahmi saya pun pernah main ke Sungai di Pameungpeuk Garut, menyenangkan. Dulu sih belum ada sampah di sungai, sekarang mungkin banyak.

  15. Sara Neyrhiza

    22 November 2018 at 1:01 pm

    wah salut dengan dek Fahmi yang kritis terhadap kondisi lingkungan. Pasti mamanya ngajarin hal2 baik juga dong di rumah..sehingga pemahaman bisa dibawa dilingkungan luar rumah

Leave a Reply