Fahmi dan Resepsi

“Ayah, Ami ingin diresepsi, boleh?” tanya Fahmi tiba-tiba ketika kami sedang nonton televisi. Hujan di luar seharian turun, belum juga berhenti.

Ayahnya melongo. “Ami mau diresepsi?” diulanginya pertanyaan anak itu. Raut wajah ayahnya tidak bisa menyembunyikan rasa ingin tertawa.

“Iya. Ami mau diresepsi.”

“Ami tahu dari mana kata resepsi?”

“Dari ibu. Kemarin Pak Haji bilang kita sama-sama ke acara resepsi. Ami mau ikut. Ami mau diresepsi…”

Mendengar obrolan ayah dan anak itu saya pun tidak bisa menahan tawa lagi.

“Emang kemarin kenapa?” ayahnya balik bertanya, mungkin semakin heran melihat saya yang malah cekikikan. Sementara Fahmi masih cemberut.

Kemarin Fahmi ikut saya ke pengajian. Hanya ternyata oleh ketua majelis taklim, pengajian rutin tiap Kamis di madrasah itu dialihkan ke rumah Pak Kosim. Informasinya Pak Kosim tetangga kami itu mengadakan syukuran pernikahan anaknya sekaligus syukuran khitanan cucunya dengan mengundang ibu-ibu pengajian.

Mungkin ketika Pak Haji ngobrol mengajak semua hadirin untuk hadir di acara resepsi pernikahan yang akan dilaksanakan Sabtu besok, Fahmi mendengar nya. Tapi sepertinya Fahmi putra kami ini belum tahu apa itu resepsi. Jadilah dia merengek minta “diresepsi”.

Mendengar penjelasan saya spontan ayah Fahmi pun tertawa. Sambil memangku Fahmi, ayahnya berusaha menjelaskan apa itu resepsi.

“Kita juga diundang. Besok kita ke acara resepsi pernikahan Teh Riska ya. Ami mau ikut? Boleh. Besok kita ke Gedung PGRI ya…. Eh, Bu, resepsinya di Gedung PGRI kan ya?”

Saya mengiyakan sambil membereskan pakaian setengah kering. Hujan yang turun terus menerus tidak memberi sedikitpun kesempatan kepada matahari untuk muncul menghangatkan jemuran.

Beruntung tadi dan besok Fahmi libur sekolah. Belajar di rumah karena gedung sekolahnya dipakai acara pelatihan guru. Jadi saya ada waktu buat ngurusin jemuran yang menumpuk ini.

“Bu, kita besok pakai baju apa ke resepsi?” tanya Fahmi.

Duh! Iya juga. Pakai baju mana ya? Biasanya kalau ke undangan pernikahan baju batik jadi pilihan. Saya tidak kepikiran kalau Fahmi ikut, kenapa tidak kami pakai baju seragam ala-ala sarimbit, gitu?

Batik print kain fullprint.id

“Yah, sepertinya kita harus punya batik seragam untuk acara resmi seperti besok,” usul saya. Setelah melihat lemari pakaian, hanya ada satu batik yang seragam buat kami. Itu pun sudah kami pakai waktu mengantar teman menikah bulan Agustus lalu. Masa itu lagi itu lagi?

“Buatlah. Biar mudah pakai print kain saja. Jadi bisa kita tentukan mau seperti apa motifnya. Dan pastinya beda dari yang lain karena kita sendiri yang design.”

Sambil terus beresin jemuran saya masih kepikiran terus besok ke resepsi Neng Riska pakai baju yang mana. Baju batik ayah Fahmi cukup banyak, soalnya baju kerjanya rata-rata batik juga. Saya ada beberapa gamis batik. Kulot batik dan atasan batik. Tapi Fahmi? Emang masih usia 5 tahun. Tapi masa iya ke kondangan pakai baju tobot?

Inginlah kami punya baju batik sarimbit kaya orang-orang di tv sana. Dan biar gak pasaran, bener juga kami harus pakai jasa print kain supaya motif yang kami buat ekslusif. Tidak ada yang menyamakan dan terhindar dari nyinyiran tetangga yang super pedas:

“Eh, bajunya samaan ya… Maklum lah kain pasaran. Coba ketemu satu orang lagi yang sama bisa ditukar dapat piring cantik, deh.”

Grrhh! Kezel…

Batik print kain fullprint.id

 

7 Comments

  1. Anis Khoir

    10 November 2018 at 10:02 am

    Ada-ada aja ya Mbak anak-anak itu. Saya sendiri suka kaget mendengar pertanyaan anak-anak yang kadang tak menduga apa yang dipikirkannya

    1. LILIS LINAWATI

      10 November 2018 at 10:40 pm

      Benar Mbak. Makanya saya tulis ulang setiap momen tidak terduga tentang anak ini biar bisa dilihat dan dibaca lagi kapan2…

  2. Nia K. Haryanto

    11 November 2018 at 12:44 am

    Wuih, bisa print desain sendiri. Keren ya. Jadi kepengen deh punya kain yang eksklusif yang cuma dimiliki saya sendiri. Tar nyoba-nyoba ah ke Fullprint,id ini. Kayak gimana sih mekanismenya. Kalo gampang, kepengen nyoba. 😀

  3. Echi mustika

    11 November 2018 at 7:27 am

    Aku suka motif yang hitam mba.. Cantik memang harus punya untuk seragam buat foto dan acara keluarga jadi mecing

  4. Andini

    11 November 2018 at 9:25 am

    Wahh lucu-lucu motifnya Teh. Seru banget bisa bikin motif sendiri tinggal print. Ditambah kelucuan Ami minta datang resepsi :)) semangat resepsi Ami

  5. Siti Nurjanah

    11 November 2018 at 12:59 pm

    Saya termasuk penggemar batik. Itu liat motifnya ko ya suka..bagus2 banget mba. Dan sekarang ada jasa print batik sendiri, jd berasa bgt nilai eksklusifnya

  6. Dwi Puspita

    11 November 2018 at 1:49 pm

    Wah bagus ya…ah jadi mupeng nih. Sekarang pengen apa-apa serba mudah aja deh…
    Grrr…suwer…jadi mupeng pengen bikin sarimbutan juga…hahahha

Leave a Reply