Ujian Ketika Anak Sakit

Ujian Ketika Anak Sakit

Sakit atau tidak, anak adalah amanah sekaligus ujian bagi setiap orang tuanya…

Khususnya bagi pasangan orang tua yang ikatan perkawinannya masih terbilang muda, ketika anak sakit (atau tidak) keberadaannya adalah sebuah ujian yang (dirasanya) berat. Teramat berat. Padahal semua orang tua pasti mengalaminya. Hanya yang membedakannya adalah soal waktu. Ada yang lebih dahulu, sehingga saat-saat “menyusahkan” itu telah berlalu dan kini tinggal menikmati hasilnya, ada yang baru mengalami dan ini sudah menjadikannya sebagai pengalaman yang teramat menyedihkan.

Bagi orang tua yang anak-anaknya kini sudah dewasa, masa dimana anaknya dulu ketika kecil masih suka sakit-sakitan adalah juga masa yang “membebani” mereka. Kini mereka bisa lebih calm, bisa lebih bijaksana, karena pengalaman telah mendewasakan dan memperbanyak bobot kejernihan pemikirannya.

Beda lagi dengan pasangan yang masih muda belum banyak mendapat pengalaman. Saat dimana diuji oleh Sang Pencipta dengan kondisi anak yang sakit, maka merasa reruntuhan menindihnya. Anak sakit jadi beban dan jadi masalah tersendiri. Entah itu beban mental karena menghadapi anak kecil sakit itu dituntut punya kesabaran serta perhatian yang super, juga beban materi, karena zaman sekarang anak sakit harus segera dibawa berobat. Ga dibawa berobat itu sudah bukan zamannya lagi. Dibawa berobat itu artinya harus siap dengan persediaan dana yang entah berapa besarannya.

Anak sakit salah-salah bisa menimbulkan masalah baru dalam hubungan rumah tangga. Kurangnya kesadaran antara masing-masing orangtua dalam memegang perannya ketika menghadapi anak yang sakit dapat menimbulkan permasalahan atau mungkin salah faham.

Perlu diketahui kalau anak sakit anak justru ulahnya akan berubah menjadi semakin manja, semakin ingin diperhatikan, atau bahkan menjadikan figur ayah atau figur ibu yang menjadi sandaran. Nempel tidak mau jauh, tidak mau tahu kalau ayah atau ibu harus tetap melakukan aktifitas harian lainnya.

Jika masing-masing orang tua kurang menyadari akan kondisi tersebut, kurang peka dan tidak mau saling mengerti atau saling menggantikan peran satu sama lain disitulah kadang masalah baru muncul.

Dalam hal ini cobalah ikhlas mengalah demi kebaikan semua. Khususnya demi kesembuhan segera si buah hati. Kalau setiap orang tua masih keukeuh dengan ego nya ya susah. Susah untuk mendapatkan keharmonisan dan kebersamaan dalam keluarga.

Padahal sejatinya indah dan bahagianya sebuah keluarga itu akan terasa justru saat kompak dalam suasana susah, dan mau sehidup semati meski berbagai cobaan melanda pondasi rumah tangga.

Jadi anak sakit jangan jadi alasan atau pemicu menambah masalah lain. Anak sakit justru senjata bersama supaya peran ayah dan peran ibu bisa saling melengkapi dalam mendampingi buah hati.

Anak sakit maupun tidak adalah tetap amanah bagi setiap orang tua yang tetap harus dihadapi dan diterima.

Sakit bukan satu satunya ujian berat. Karena yang terberat adalah mempertanggung jawabkan semuanya di hadapan pemilik Nya. Jadi mau sakit atau tidak, anak adalah tetap anak yang harus kita sayangi, perhatikan dan beri senyuman tulus demi kedamaian dan kenyamanan perasaan nya.

 

Leave a Reply