Sekolah Tak Sekolah Asal Belajar

 

Baru saja naik dan mau berbenah duduk di bus tukang asong langsung menyerbu. Ga tahu kalau Fahmi ada yang nawarin (jualan) apapun selalu menghindar (ngumpet), beda dengan anak lain kalau ada yang dagang justru minta dibelikan. Akhirnya tanpa harus saya larang pun Fahmi mengembalikan semua dagangan yang ditumpuk di pangkuannya kepada si penjual.

Tapi pas ada penjual asongan yang menjajakan buku-buku Fahmi terlihat langsung tertarik. Saya memberi lampu hijau kepadanya. Membebaskan Fahmi untuk membeli buku bacaan anak yang disukainya karena saya tahu Fahmi suka dengan buku dan saya setuju Fahmi membeli  buku.

Pilihannya jatuh kepada buku latihan soal, bukan buku cerita atau dongeng. Saya hanya mengangguk dan segera membayar.

“Kenapa mau buku ini?” Tanya saya sambil membuka-buka lembar demi lembar.

“Ami suka. Ami mau belajar kan ibu bilang tahun ini Ami mau sekolah.” Jawabnya lancar.

Iya, tengah tahun ini kami berencana mau memasukan Fahmi sekolah. Usianya 5 tahun 4 bulan nanti pas masuk sekolah. Kalau sekolah di TK setahun kemungkinan Fahmi masuk SD usia 6 tahun lebih 4 bulan. Tapi kalau di TK 2 tahun maka 7 tahun lewat 4 bulan usia Fahmi di kelas satu SD.

Jadi mau yang mana? Pilih masuk sekolah SD kurang dari 7 tahun atau lebih dari 7 tahun? Saya dan suami belum tahu pasti. Meski di kota aturan sekolah SD pun sangat ketat, namun bagi sekolah di kampung khususnya di tempat kami tinggal ini rasa-rasanya masih bisa ditolerir. Secara umumnya sekolah justru mencari murid sebanyak-banyaknya demi tunjangan BOS yang besar pula.

Kami mungkin lihat kondisi anak. Meski sejak usia 3 tahun sudah saya ajarkan sedikit pengenalan huruf, angka, nama-nama dan lain sebagainya namun jelas akan beda bawaannya dengan nanti di sekolah.

Bagi saya dan suami buat masalah sekolah anak ini jalanilah saja dulu. Mau sekolah tidak sekolah yang penting anak mau belajar. Sebisa mungkin saya ajak Fahmi untuk terus memulai mengenal pelajaran yang diajarkan di sekolah. Supaya saat masuk nanti dia sudah tidak kaget lagi.

Tapi yang terpenting ya ilmu untuk kehidupannya. Seperti setelah mengenal angka, ia bisa menghitung jumlah anak mengaji di rumah dan mengambil seberapa banyak es krim untuk dibagikan kepada mereka. Setelah belajar mengenal nama hari, Fahmi jadi tahu kapan ayahnya libur kerja (hari Minggu) dan kapan ibunya harus ke pengajian sore (Hari Kamis).

Saat bepergian pun belajar tidak pernah ditinggalkannya. Setiap ada kesempatan saya selalu kaitkan apa yang dilihat atau fenomena yang ada dengan pelajaran kehidupan yang kelak berguna untuknya.

Belajar tidak pernah ada kata cukup. Belajar tidak hanya untuk usia sekolah. Jadi meski lagi ke luar kota dan sedang menikmati sarapan pun kalau anak lagi mood belajar ya ayo ikuti saja.

Nih anak sarapan pagi di Giwangan Yogyakarta pun harus sambil “belajar”

Ya buat kami sekolah tak sekolah yang penting anak harus terus belajar. Soal kapan Fahmi masuk sekolah SD mungkin baru akan kami bicarakan nanti setelah selesai TK nya saja.

 

#SatuHariSatuKaryaIIDN

 

1 Comment

  1. adi pradana

    19 Februari 2018 at 2:47 pm

    Kapanpun, dimanapun, belajar itu suatu proses menjalani hidup. Tetap semangaaaaat!

Leave a Reply