Kotak Ajaib Si Guru Mejik

Kotak Ajaib Si Guru Mejik

Jadi ingat dulu saat sekolah agama di sebuah kampung yang jauh sekali dari keramaian kota. Mengaji di sebuah rumah panggung dengan pencahayaan lampu petromak. Ya, saat itu meski sudah merdeka tapi listrik belum sampai ke desa.

Sang guru agama bicara tentang keutamaan ilmu. Dimana nanti (entah berapa lama ke depan) dengan keutamaan ilmu yang dimiliki manusia bisa melakukan hal yang tidak masuk akal jika dilihat atau dibandingkan dengan kondisi saat itu. Tahun 1986-1987.

Misalnya meski kita berada di rumah, namun bisa melihat orang lain yang berada di lain kota. Atau bisa mendengar obrolan saudara kita yang sedang berada di Saudi (Arab Saudi).

Saya dan teman-teman sebaya teman mengaji merasa wah gimana gitu ya… Merasa jika benar itu terjadi maka ilmu orang tersebut benar-benar sudah tinggi. Punya kesaktian lah istilahnya.

Kami murid-murid ngaji saat itu masih jauh dari kata kecanggihan teknologi. Maka ketika ada cerita sesuatu yang terjadi tapi merasa belum masuk akal itu ibarat menghadapi keajaiban yang luar biasa. Sambil dalam hati bertanya-tanya emang ada manusia sakti gitu ya?

Cerita guru ngaji itu jawabannya kebuka akhir-akhir ini. Setelah pemerataan pembangunan mulai dicanangkan. Setelah listrik masuk ke desa tempat kami tinggal sekitar tahun 1990 an. Dimana kecanggihan teknologi mulai kami ketahui dan rasakan.

Bukan karena orang itu sakti jika bisa melihat kelakuan orang yang keberadaannya jauh jauh sekali dari tempat kita tinggal. Tapi karena adanya televisi. Bukan karena ilmu sihir jika ada orang yang bisa mendengar obrolan orang yang berada di luar negeri sekali pun. Tapi karena ada alat yang dinamakan telepon.

Guru mengaji kami tidak melebih-lebih kan juga tidak membohongi kami. Apa yang dikatakannya memang terbukti. Dan semua itu karena kecanggihan teknologi.

Televisi ibarat kotak ajaib yang bisa memberikan pelayanan kepada manusia. Bisa mengajarkan berbagai hal dengan tidak harus bersusah payah mengajar seperti guru ngaji atau sekolah agama.

Bedanya guru ngaji mengajarkan satu kebaikan sedangkan si kotak ajaib ini mengajarkan berbagai hal, baik yang baik maupun yang buruk.

Sudah bisa dibedakan antara ada si kotak ajaib di rumah dengan tidak ada, perilaku anak saya pasti beda. Layar kaca ibarat benda ajaib yang bisa menghipnotis orang dengan tidak menggurui, tidak memerintah tidak pula berinteraksi. Cukup melihat atau menyaksikannya saja.

Ini terbukti pada anak saya. Sikap dan tingkah laku sehari-harinya bisa dibedakan. Antara di rumah yang ada TV dengan di rumah yang tidak ada TV sama sekali. Mengetahui gelagat seperti itu (kecanduan televisi) saya pun segera ambil peran.

Saya tahu TV tidak bersalah. Namun bukan berarti semua acara bisa dilihat oleh anak balita. Tugas TV hanya menyampaikan informasi kepada pemirsa. Tapi kalau yang disajikan hal buruk dan bisa dicontoh anak, mau menyalahkan siapa?

Memang karena melihat dari TV anak jadi bisa ikut belajar, bisa bergaya. Tapi Karena melihat dari TV juga anak jadi bisa melakukan hal di luar kewajaran. TV bisa jadi guru teladan tetapi sekaligus bisa jadi bumerang.

Pendampingan orang dewasa ketika anak menonton televisi itu yang harus diperhatikan. Karenanya tidak segan saya menerapkan aturan boleh nonton TV tapi setelah ayah pulang kerja atau pas ibu juga ada di rumah.

Hasilnya lumayan bekerja. Anak jadi tidak tergantung kepada si kotak ajaib lagi. Longsor beberapa bulan lalu mengakibatkan signal belum stabil, membuat antena televisi tidak berfungsi dengan baik. Dan kami tidak memprioritaskan untuk membetulkannya. Hilang semua stasiun tv yang telah diprogram meninggalkan dua stasiun saja yang masih tersisa. Itu membuat anak merasa tidak ada pilihan lain sehingga ia justru bosan dan jadi malas untuk menonton.

Sudah hampir setahun TV jarang dinyalakan. Layar kaca tipe jadul warisan dari mama mertua kini hanya jadi pajangan. Tapi tidak ada (nonton) TV larinya ke gadget2. Hahaha… Sama saja bohong ya?

Tidak ada (nonton) TV ternyata tidak mematikan segala aktivitas mendapatkan informasi. Anak justru makin aktif bereksplolari dan bergerak. Anak jadi lebih banyak bermain dengan imajinasinya dengan berbagai mainan. Tidak hanya duduk sambil melototi si kotak ajaib seperti sebelumnya. Dipikirin benar juga sepi tanpa (nonton) TV itu memang indah. Telinga kami juga berasa lebih damai terhindar dari berita gosip, gaya hidup yang tidak cocok dengan kami orang kampung dan berita kriminal yang makin aneh-aneh dan merajalela. Berita yang menurut saya malah membosankan dan tidak baik buat anak.

Kotak ajaib si guru mejik di rumah kami ini kini nasibnya hanya disetel kalau ada tamu yang mau nonton saja. Sementara nasib saya hanya bertugas membersihkannya dari debu setiap harinya.

 

#SatuHariSatuKaryaIIDN 

4 Comments

  1. Nchie Hanie

    2 Februari 2018 at 8:57 pm

    Duh Si Kotak Ajaib ini emang menghinoptis semua kalangan sebagai penghibur dan informasi. Plus minusnya tentu ada, tinggal bagemana kita menyingkapinya ya teeh.
    Aku ada 3 kotak ajaib di rumah, tapi ga pernah di stel, kebanyakan mantengin leptop. Klo pun di stel sukanta acara musik.

  2. mpo ratne

    3 Februari 2018 at 2:07 pm

    Tv masih ok. Mpo nonton chanel lokal. No bayar

  3. Irni Irmayani

    5 Februari 2018 at 5:32 am

    Kalau aku udah beberapa tahun gak nonton tv lokal mbak. Palingan nonton korea aja seh di rumah 😆

  4. Noe

    5 Februari 2018 at 1:44 pm

    Keren teh kebijakan soal setel TV-nya, di rumahku TV selalu menyala. Tp kami nontonnya bareng2 di ruang keluarga, supaya ttp bs dampingi anak2

Leave a Reply