Pilih Ayah atau Ibu

Pilih Ayah atau Ibu

Seharusnya tidak pernah ada pertanyaan atau pilihan kalimat seperti itu kepada anak. Karena bagaimanapun bagi anak baik ayah atau ibu sama pentingnya, sama posisi serta kedudukannya. Keduanya dibutuhkan dan tidak bisa dipisah-pisahkan dari anak.

Namun adakalanya suasana tidak mengenakan dan memojokkan. Pernyataan pilih ayah atau ibu pun meluncur dengan sendirinya. Apa dampaknya kepada anak?

=== === ===

“Ayaah… Ibu galak! Hu…hu…hu…!”

Saat terdengar suara kunci pintu terbuka Fahmi langsung lari dan berteriak. Huh… Saya hanya menghembuskan nafas jauh-jauh. Mulai deh cari perlindungan.

Bukan sekali dua kali kalau Fahmi nakal yang saya pikir kelewatan, atau main tapi membahayakan saya suka agak “keras” terhadapnya. Timbal baliknya Fahmi ngambek dan cemberut. Biasa, namanya juga anak. Bisanya ya begitu.

Nah pas masih dalam kondisi ngambek itu, jika datang ayahnya maka langsung deh mengadu mencari perlindungan.

Demikian sebaliknya. Kalau saya meninggalkan rumah dan Fahmi memilih tidak ikut, main di rumah saja karena ada ayahnya, biasanya saat saya pulang saya yang mendapat giliran diburu Fahmi.

“Ibu, tadi ayah marah ke Ami. Hikz!”

Bla… Bla… Bla… Seperti biasanya aduannya panjang kali lebar kali tinggi. Saya hanya datar saja menanggapinya. Tidak memenangkan, tidak juga menyalahkan. Anak-anak memang begitu. Masanya mencari pengakuan.

“Tadi Ami nakal ya? Coba Ami tadi melakukan hal apa sehingga Ayah marah?”

“Enggak…” yagitu. Paling ngeles sendiri.

“Kalau Ami nakal, ibu juga akan marak kok. Sama seperti Ayah.”

Udah diam deh kalau sudah gitu. Dan tidak lama ayah dan anak itu pun akur lagi.

=== === ===

Lain lagi kalau si anak dilindungi oleh ayah atau oleh ibunya meski jelas si anak melakukan kesalahan/ketidaktahuan. Anak akan merasa berada di satu pihak dan dalam benaknya tertanam siapa figur yang “baik” dalam verisnya.

Orang tua melakukan hal itu, membela anak tanpa tahu bagaimana masalah dan sebab akibatnya mungkin karena terlalu sayang. Tapi sebenarnya tanpa disadari justru orang tua diam-diam telah menanamkan sifat ketergantungan dan indisiplin kepada anak. Tidak menutup kemungkinan akan diikuti sifat tidak baik atau karakter buruk lainnya.

Dalam membesarkan dan mendidik anak sudah seharusnya antara ayah dan ibu bekerja sama, punya komitmen yang sama. Satu visi satu misi. Sikap anak yang masih kekanak-kanakan seharusnya jangan diikuti oleh orang tuanya.

Karena tidak jarang lho dan saya masih melihat ada kejadian saat anak nakal lalu si ibu memarahinya dengan maksud mendidik supaya anak tahu dan jera. Tapi sang ayah membela dengan alasan terlalu sayang kepada anak. Merasa ada yang membela anak pun semakin ngelunjak. Balik semakin nakal kepada ibunya dan membuat sang ibu jengkel lalu mengeluarkan ucapan “Kamu mau pilih ayah atau ibu?”

Demikian juga ketika orang tua bertengkar biasanya anak yang jadi korban. Dalam kondisi emosi biasanya satu sama lain saling ingin menang sendiri dan memberikan pilihan kepada anak “mau pilih ayah atau pilih ibu?”

Bayangkan bagaimana perasaan si anak. Ibarat celana yang dipakai bersamaan antara kaki kiri dengan kaki kanan maka kini ia harus memilih merobekkan bagian kiri atau merobekkan bagian kanan dengan konsekwensi ia akan memakai celana sebelah saja!

Sebagai orang tua tega kah membiarkan anak mengenakan celana hanya bagian kiri atau hanya bagian kanan saja?

=== === ===

Kembali ke paragraf pembuka di atas, seharusnya tidak pernah ada pertanyaan atau pilihan kalimat seperti “Pilih ayah atau pilih ibu?” kepada anak. Karena bagaimanapun bagi anak baik ayah atau ibu sama pentingnya, sama posisi serta kedudukannya. Keduanya dibutuhkan dan tidak bisa dipisah-pisahkan dari anak.

Kini tinggal orang tua yang memperkuat komitmen dan misi bersama dalam membesarkan anak. Terus bekerja sama dalam membesarkan buah hati. Sebagai suami istri, sebagai ayah dan ibu harusnya sudah sejak dari awal menentukan mau bagaimana cara dan metodenya dalam mendidik anak sehingga anak sampai kapanpun anak tetap merasa memiliki keduanya.

Ambil jalan terburuknya misal ayah dan ibu harus berpisah, sebaiknya meski demikian tetap sebagai orang tua harus mengedepankan kepentingan anak. Kalau perlu sandiwara saja dulu seolah tidak ada masalah di depan anak. Semua baik-baik saja sampai anak cukup umur dan mengerti kenapa orang tua mengambil jalan masing-masing.

Seburuk apapun kondisinya pertahankan kebersamaan anak dengan orang tuanya. Jangan biarkan anak bingung memilih ayah atau ibu dalam kehidupannya.

 

#SatuHariSatuKaryaIIDN

 

10 Comments

  1. mpo ratne

    30 Januari 2018 at 8:42 pm

    Kasihan kalau anak sampai harus memilih

  2. Muthmainnah Yuria

    31 Januari 2018 at 1:05 pm

    Setuju sama ayah ibu adl paket komplit yg tak boleh dipisahkan.
    Karena saya merasakan. Mereka pisah saat sy usia 3tahunan ya mungkin sebayaan fahmi dulu bun..
    Sedihnya terasa sampai detik ini

  3. Alaika Abdullah

    31 Januari 2018 at 4:08 pm

    Saya sangat setuju bahwa ayah dan ibu adalah paket komplit yang tak terpisahkan bagi anak.
    Dan setiap orang tua tentu ingin memberikan yang terbaik bagi anaknya. Tak pernah ada harapan apalagi cita-cita di dalam jiwa seseorang untuk berpisah/bercerai di dalam perkawinannya. Semua itu, ada faktor yang hanya dapat dipahami oleh para pihak saja. Orang luar, hanya bisa jadi penonton atau malah jadi biang rusuh.
    Tentang berpura-pura bahwa tak ada kejadian apa-apa di depan anak, hingga mereka cukup umur, bukanlah hal yang mudah. Kalo saya, lebih sering menyarankan agar cari win-win solution jika ada teman/klien yang rumah tangganya sudah di ujung tanduk.
    Hanya mereka sendiri yang tau persis, masih sanggup bertahan atau justru berpisah adalah jalan keluar terbaik.

    Tentang anak, menurut saya, jangan pernah menjadikan mereka sebagai alasan untuk mempertahankan sebuah rumah tangga, jika konsekuensinya adalah ibarat membawa anak ke dalam suasana panas, ibarat api dalam sekam. Kasian anak-anaknya. Anak adalah juga manusia, yang bisa diedukasi secara perlahan untuk memahami keadaan. Yang harus diingat adalah, hindari menjelekkan ayah/ibunya, jika perpisahan terpaksa terjadi. Tak ada mantan ayah atau ibu bagi anak-anak, karenanya silaturrahmi harus tetap terjalin erat.
    Menerapkan ini, tentu sama beratnya dengan berpura-2 ‘every thing is ok’ sih. Tapi berterus terang, dan membawa anak untuk lanjutkan kehidupan adalah hal yang lebih tepat menurut hematku, sih. Etapi, semuanya kembali ke pribadi masing-masing.
    Ya ampun, Teh Okti, ini komenku jadi panjang kali lebar kali tinggi, menghasilkan volume. Hehe. Punten nyak, Teh.

  4. Beautyasti1

    31 Januari 2018 at 7:13 pm

    Betul, yang suka mencari pengakuan itu anak anak, jadi kalau ada orang dewasa yang mencari pengakuan berarti bertingkah like a baby ^^

  5. Indira

    31 Januari 2018 at 7:22 pm

    Selalu menjadi pilihan sulit di kala harus memilih yaa Mbak Okti, semoga selalu dapat bersinergi apa pun keadaannya

  6. Atiqo

    31 Januari 2018 at 9:12 pm

    Sangat setuju. Tak ada yg lebih baik, atau lebih buruk. Itulah dikatakan orang tua yg akan menjadikan anaknya hebat dimasanya kelak.

  7. Nova DW

    1 Februari 2018 at 6:01 am

    Sebaiknya memang anak tidak diharuskan memilih. Kedekatan itu harus tercipta, baik dengan ayah atau bundanya.

  8. Irni Irmayani

    1 Februari 2018 at 11:24 am

    jangan sampai deh anak harus memilih. Orang tua yang sudan dewasalah yang harus memikirkan solusi yang terbaik

  9. lendyagasshi

    2 Februari 2018 at 4:33 am

    Saya biasanya mendengar keluhan anak terlebih dahulu.
    Dan melontarkan pertanyaan yang sekiranya ia mampu menjawabnya sendiri “tepat atau kurang tepat” dalam porsi anak-anak.
    Dan tidak membela siapapun.

    Karena sejatinya, anak-anak hanya ingin didengar.
    Sama kaya emaknya..hiiiiihhi…

  10. Mutia Nurul Rahmah

    12 Februari 2018 at 3:19 pm

    semoga orang tua bisa bijak dan tetap melengkapi ya

Leave a Reply