Supaya Anak Disiplin Bagaimana Caranya?

Supaya Anak Disiplin Bagaimana Caranya?

“Bu ayo mandi! Sebentar lagi Aa sama Teteh pada datang. Malu Ami belum siap.” Fahmi menarik-narik lengan baju setelah saya menjawab jam lima ketika ia bertanya ini sudah jam berapa.

Sudah lama saya selalu mengingatkan Fahmi, kalau jam lima sore itu waktunya ia mandi. Karena tidak lama lagi Aa dan Teteh (sebutan Fahmi untuk anak-anak mengaji di rumah) akan datang. Biasanya kalau Fahmi sudah rapi ia boleh bergabung untuk mengaji bersama mereka. Kalau belum mandi ya mana boleh. Kecuali ga malu mau solat dan ngaji masa masih bau.

Sore ini meskipun hujan terus sejak pagi dan suhu udara terasa begitu dingin Fahmi sudah bisa ingat jadwalnya sendiri. Waktunya mandi ia yang justru mengajak saya untuk menyegerakan.

Buru-buru saya meninggalkan pekerjaan dan bergegas menyiapkan peralatan mandi Fahmi. Tanggung sih sebenarnya tinggal beberapa menit lagi pekerjaan akan selesai. Tapi saya harus bisa konsisten di depan anak. Secara saya sendiri yang sudah susah payah menanamkan kedisiplinan kepadanya. Apa kata dunia kalau saya sendiri yang justru mengingkarinya?

Kedisiplinan anak bagi saya adalah sebuah tanggungan orang tua. Anak bisa disiplin atau tidak tergantung dari orang tuanya. Karena itu saya sedikit “keras” terhadap anak dalam hal disiplin. Karena menurut saya justru jika anak sudah bisa disiplin tandanya ia telah memegang salah satu dari sekian banyak kunci untuk menuju pintu kehidupan yang sesungguhnya.

Kedisiplinan sebaiknya ditanamkan kepada anak sejak dini. Ibarat pohon jika masih kecil ia masih bisa diarahkan karena lentur. Tapi kalau sudah jadi pohon besar, boro-boro diarahkan yang ada itu batang bakal patah kalau coba ditekuk.

Begitu juga dengan anak. Sejak dini orang tua harus mulai menanamkan kedisiplinan kepada anak supaya saat anak besar dan dewasa ia telah terbiasa.

Tidak mudah memang menanamkan disiplin itu. Teramat banyak rintangannya. Bukan hanya dari pihak anak, tapi juga dari pihak orang tuanya sendiri, keluarga dan atau lingkungan. Tapi jika dilakukan secara konsisten dan terus menerus insyaallah tidak akan ada yang sia-sia. Saya alami sendiri buktinya.

Bangga itu ketika di luaran ada seseorang membuang sampah sembarangan, Fahmi yang melihatnya langsung nyeletuk “Itu besar-besar malu ya Bu, buang sampah sembarangan.” ┬áKatanya dengan memasang wajah tidak suka.

Mungkin itulah hasil jeri payah saya dan ayah Fahmi yang tidak henti-hentinya selalu mengajarkan dan memberi contoh untuk membuang sampah ke tempat sampah. Disiplin membuang sampah pada tempat sampah rupanya sudah membuahkan hasil juga disaat usia Fahmi belum sampai 5 tahun.

Disiplin sebuah kunci untuk memasuki pintu kehidupan yang sesungguhnya

Memang masih jauh untuk menjadikan anak disiplin. Karena itu masih banyak PR yang harus kami kerjakan sebagai orang tuanya. Upaya dalam menanamkan kedisiplinan kepada anak terus saya lakukan. Diantaranya dengan cara:

1. Mengajarkan anak disiplin dengan dengan lemah lembut, kasih sayang dan full kesabaran.

Ya, menerapkan kedisiplinan bukan berarti orang tua jadi galak apalagi otoriter. Justru dengan sikap demikian bukan kedisiplinan murni yang akan didapat, melainkan ketakutan atau kepura-puraan dari sang anak. Bisa saja di depan kita anak menurut, disiplin. Tapi di belakang anak merasa bebas dan melanggar ketentuan yang selama ini diajarkan.

Namanya juga anak. Masih bandel ya terbilang wajar. Karena itu perlu kesabaran yang super. Ibarat air hujan jatuh menetes di batu. Lama untuk membentuk cerukan. Tapi setelah terbentuk akan indah alami dan abadi. Begitu juga dengan kedisiplinan.

2. Konsisten.

Ini godaan berat bagi saya. Saat kita mati-mati an mengajarkan anak disiplin, eh tiba-tiba ada orang lain (saudara misalnya) datang dan tanpa sepengetahuan kita mereka mengizinkan atas apa yang sebenarnya kami larang terhadap anak. Anak jelas bahagia. Berasa ada yang memenangkan. Tapi masalah bagi kita yang tertatih membentuknya. Saat orang lain itu tiada, anak akan susah lagi kita bentuknya.

Atau seperti tadi saat pekerjaan saya tinggal sedikit anak sudah menagih jadwal yang selama ini saya terapkan. Andai saya memilih menyelesaikan pekerjaan, itu artinya saya tidak konsisten. Dan sekali saja saya inkonsisten, maka kesananya anak akan sulit lagi menerima aturan yang dibuat.

3. Mengatakan tidak pada tempatnya.

Saat anak merajuk hati seorang ayah atau ibu pasti akan tersentuh. Galau pun akan menghampiri. Percayalah kalau memang sayang anak, seberat apapun itu katakanlah dengan tegas. Kecuali mau jadi orang tua yang tidak konsisten. Kita yang buat aturan (supaya anak disiplin) kita juga yang sendirinya melanggar. Halo… Jangan heran kalau kita termasuk orang tua labil begini, anak pun mudah indisiplin.

4. Kesepakatan.

Saya dan anak kadang membuat semacam perjanjian supaya dia bisa belajar disiplin. Bisa nonton tv kalau mandi tepat waktu. Atau boleh beli satu keinginan setelah bangun pagi dan ikut solat subuh.

Daan… saat anak berhasil melakukan apa yang disepakati jangan lupa beri sedikit apresiasi. Bisa berupa pujian atau sanjungan. Maksudnya supaya anak merasa lebih semangat untuk menjalankan kedisiplinan lain selanjutnya.

Mungkin masih banyak cara lain yang bisa dilakukan dalam menanamkan kedisiplinan kepada anak. Sejauh ini hanya 4 point di atas yang bisa saya terapkan kepada anak saya yang belum sampai 5 tahun usianya.

Punya cara tambahan dalam mendidik anak supaya bisa disiplin? Share saja di kolom komentar yaa… biar jadi masukan buat yang lain dan lebih bermanfaat pastinya.

#SatuHariSatuKaryaIIDN

9 Comments

  1. Rita Asmaraningsih

    30 Januari 2018 at 6:14 am

    Ngajarin anak disiplin kudu dari kecil ya Mba.. Untungnya Fahmi nurut ya apa yg diajarkan ortunya..

  2. lianny hendrawati

    30 Januari 2018 at 9:38 am

    Fahmi pinter, sehat2 terus yaaa.
    Soal disiplin ini memang rada2 susah. Kalo aku masih suka cerewet kalo soal makan, kadang karena banyaknya kegiatan dari sekolah, anak-anak suka lupa makan. Masih perlu diingatkan terus.

  3. Nchie Hanie

    30 Januari 2018 at 10:36 am

    Intinya ngurus anak jangan bosen2 ngasih tau ya Teh, aku palinng teges kalo soal disiplin anak. Alhamdulillah sampe sekarang udah tahu mana yang harus dilakukan dan mana yang tidak hihii

  4. Atiqo

    30 Januari 2018 at 12:57 pm

    Konsisten ini PR besar buay saya mbaa. Selalu ada pembelaan ‘argh anaknya masih kecil, masih umut 2 tahun dll” semoga setalah baca ini semakin teguh lendirian.amin.

  5. mpo ratne

    30 Januari 2018 at 7:56 pm

    Kalau kata agama “bunda dan ayahnda guru pertama ngajarin kedisplinan

  6. miss dapur

    30 Januari 2018 at 7:58 pm

    Dislipin penting, perlu kesepatakan ane setuju sekali

  7. Apura

    30 Januari 2018 at 8:12 pm

    Aku juga konsisten itu PR banget deh. Setuju nih sama tipsnya

  8. Ratri Anugrah

    31 Januari 2018 at 11:14 am

    Bener tuh yang konsisten. Kadang nggak suka aja ngelihat orang tua yang nyuruh anaknya babibu, tapi dia sendiri kadang nggak melakukan. Soalnya kan anak pasti ngelihat tingkah orang tuanya. Paling manjur ya kalau orang tua menerapkan juga.

  9. Eni Martini

    1 Februari 2018 at 6:29 am

    Memang ya disiplin anak berpusat pada orangtua,kadang sebagai ortu ikut malas ..bubrah deh disiplin yang sudah berjalan dan baru mau bertumbuh, PR buatku nih

Leave a Reply