Anak Mandiri, Bagaimana Caranya?

Anak Mandiri, Bagaimana Caranya?

Wajahnya cemberut. Tanda suasana hatinya sedang tidak bahagia. Saya pura-pura tidak peduli. Ngetes sejauh mana Fahmi bisa bertanggung jawab terhadap pilihannya. Bukan tidak tega, tapi itu semua demi kebiasaan baiknya nanti. Demi bisa jadi anak yang mandiri.

Seperti biasa, kalau mau bermain Fahmi putra saya selalu minta izin. “Bu, Ami mau main mobil dan pasir, boleh?” Katanya merayu sembari mengedip-ngedipkan matanya. Duh ibu mana yang tidak meleleh hatinya.

“Tentu saja boleh. Tapi…” saya mengerling menatapnya sambil tersenyum. “Setelah main selesai nanti Ami mau simpan lagi mainannya?”

Anakku mengangguk. Lalu berlari mengambil mainan dan tidak lama terdengar suaranya ngeeeng… ngeeenggg… dihalaman. Tandanya ia sedang bermain mobil yang katanya mengangkut pasir dan bebatuan. Saya pun melanjutkan pekerjaan.

Tidak berapa lama, Fahmi tergopoh-gopoh datang sambil mengusap keringat di dahinya. Lalu mengambil gelas dan minum air putihnya.

“Sudah ah mainnya,” katanya sambil duduk nyender di dekat bola.

“Kalau sudah, jangan lupa mainan mobilnya disimpan ya,” saya tersenyum mengingatkan.

“Ah! Malas. Biarin saja.” Katanya cemberut. Tuh kan… Mulai deh.

“Jangan gitu dong. Kan tadi Ami sudah janji kalau sudah main mobilnya mau disimpan lagi. Yok bereskan dulu.” Saya tetap membujuknya.

Bukannya segera membereskan mainan mobil yang berserakan, Fahmi malah malas-malasan sambil pasang muka cemberut.

“Ibu kasih waktu lima menit ya. Itu lihat jarum putih sekarang di angka 8. Nanti sudah sampai di angka 9 baru mainannya dibereskan. Boleh…?” Saya berusaha bersabar.

Fahmi tidak menghiraukan meski sempat melirik dengan ujung mata. Saya pun pura-pura cuek saja. Perlu kesabaran ekstra untuk bisa mengajak anak disiplin dan belajar mempertanggungjawabkan apa yang jadi kesanggupannya.

Orang tua mana yang tidak ingin anaknya mandiri dan penurut. Namun untuk mencapai itu jarang sekali yang tidak disertai dengan pengorbanan dan perjuangan. Namanya juga anak-anak, masih sukar kita arahkan. Tapi justru karena mereka masih anak-anak, sebagai orang tua saya punya prinsip saya harus sudah mendidik dan mengarahkan (tepatnya membiasakan) supaya anak belajar disiplin dan menepati apa yang sudah disepakati.

Bukan sekali dua kali Fahmi suka mangkir dari apa yang seharusnya dilakukan dan sudah diketahuinya sebagai aturan bersama di rumah. Membereskan mainan setelah bermain, mengembalikan alat tulis setelah menggambar, menyimpan buku bacaan setelah dibaca ke rak buku, atau menyimpan lagi sesuatu kepada tempat semula setelah menggunakannya.

Sekali dua kali karena ia kelelahan dan langsung tertidur tidak sempat membereskan apa yang seharusnya ia lakukan. Namun kalau terus-terusan demikian ia akan keenakan dan terbiasa. Dan saya tidak ingin itu terjadi kepadanya.

Makanya meski ia pasang wajah cemberut saya pura-pura tidak peduli. Saya tidak akan turun tangan menyimpan mainannya karena saya tahu ia masih bisa melakukannya sendiri. Fahmi bisa mandiri. Hanya biasa anak suka sedikit manja gitu.

“Sudah di angka 9, Mi.” Saya mengingatkan.

“Yah…ibu ah. Baiklah…!” Meski sedikit ngambek akhirnya Fahmi membereskan mainannya ke tempat semula. Tuh kan, emang dasarnya dia bisa kok. Hanya biasa malas dan manja saja. Dan saya tidak ingin dia terbiasa seperti itu. Jadi meski harus pasang wajah tidak tega, pura-pura galak luar biasa, tapi semua itu demi kebaikan dia juga. Demi bisa jadi anak yang disiplin. Itu saja.

Karena kegigihan dan dibiasakan akhirnya Fahmi beneran bisa mandiri. Meski kadang yaitu suka pura-pura, suka manja padahal sebenarnya sudah bisa makan sendiri, mandi sendiri, dan gosok gigi sendiri, tentu saja.

Jadi kuncinya supaya anak bisa mandiri adalah orang tua harus punya kesabaran yang ekstra, harus jadi contoh yang baik dan terus memberi motivasi kepada anak bahwa anak memang bisa melakukan apa yang sudah diajarkan.

Dan jangan lupa, beri anak pujian atau apresiasi ketika anak berhasil melakukan kemandirian yang diajarkan. Supaya anak terus termotivasi dan semangat dalam melakukan kemandirian berikutnya. Yah, namanya juga anak-anak. Kadang harus dibujuk dulu untuk mau melakukan sesuatu.

Begitulah kisah menanamkan kemandirian pada anak versi saya. Punya kisah lain dalam mendidik anak supaya bisa mandiri? Boleh share supaya bisa saling melengkapi ya…

#SatuHariSatuKaryaIIDN

 

 

 

Leave a Reply