Bangga Jadi  Anak Desa

Bangga Jadi  Anak Desa

Di zaman serba beton ini, saat tanah sudah banyak ditutupi oleh semen dan kotoran cacing yang sangat menyuburkan tanah sulit dijumpai masihkah anak kita mengenal mata air dan humus tanah?

Alhamdulillah, Fahmi putra kami masih bisa menemukan itu semua. Iyalah, kami kan tinggal di kampung. Daerah pelosok Cianjur dimana jalan masih beralaskan batu dan tanah merah, lahan masih banyak rumput hijaunya dan air selokan masih jernih, belum banyak terkontaminasi sampah dan polusi.

Kami sengaja mengenalkan Fahmi kepada alam sejak dini. Membawanya ke sawah, membiarkan kaki kecilnya berlarian di pematang. Mengajaknya ke air terjun supaya ia bisa merasakan dinginnya air yang berasal dari mata air pegunungan. Sampai mengajaknya jalan-jalan ke kebun dan sungai agar ia bisa mengetahui betapa desa tempat dia tinggal memiliki kekayaan dan keindahan yang luar biasa.

Tapi jangan salah. Semua itu lambat laun akan berangsur hilang seiring dengan semakin banyaknya warga kota yang membeli lahan di desa dan penduduk kampung hari demi hari semakin banyak membawa dampak yang tidak sedikit pula.

Ya kami sadar suatu saat apa yang kami rasakan ini akan hilang dan tinggal cerita dalam gambar. Penyempitan lahan membuat semua tergerus dan beralih fungsi. Kami tidak ingin anak cucu kami tidak lagi merasakan alam pedesaan yang asri dan alami. Karena itu tidak bosan saya dan suami membawa anak kukurubutan menerjang lebatnya hutan dan ladang supaya dia bisa merasakan hijaunya alam sebelum semua disulap kontraktor jadi bangunan beton.

Curug Citambur, Pasirkuda Cianjur Selatan

Tidak akan lama lagi keasrian suasana desa akan sirna manakala mulai terlihat sampah yang menumpuk di sepanjang tebing sungai. Jangan heran kalau mata air tempat kami bermain dan meneguknya saat haus ini suatu saat berubah menjadi selokan berbau dan tidak sedap dilihat.

Suatu saat, saya dan suami harus membayar mahal untuk dapat mengajak anak melihat dan menyaksikan semua keasrian alam desa ini. Maka selagi semua itu masih bisa kami dapatkan gratis, maka mari kita nikmati sepuasnya.

Mari merasakan bagaimana dinginnya air gunung menyentuh kulit. Nikmati bagaimana segarnya paru-paru ini manakala masih bisa menghirup udara bersih sepuas-puasnya. Dan bedakan kejernihan pandangan manakala lautan hijau masih terlihat jelas di depanmu. Mari nikmati sepenuhnya selagi anugerah terindah ini masih bisa kita temui di halaman rumah.

Adalah sebuah harapan kami terhadap anak dimana ia harus merasa bangga meski tinggal dan jadi anak desa. Menanamkan rasa teramat sangat beruntung nya Fahmi dibanding teman-teman sebayanya di kota dimana ada yang sama sekali belum (tidak) tahu darimana beras yang sehari-hari dimakannya berasal. Sekali lagi kamu beruntung, Nak.

Begitulah sesempatnya anak selalu kami bawa berpetualang dari jurang ke jurang dengan harapan ia bisa menikmati semua itu sepuasnya sebelum semuanya hilang berganti kemodernan. Saya dan suami ingin anak cucu saya tidak kehilangan momen itu hanya karena perubahan alam desa menjadi kota.

#SatuHariSatuKaryaIIDN

 

 

12 Comments

  1. anak tetangga

    26 Januari 2018 at 1:53 pm

    weh desanya keren bu…
    air terjunnya indah

  2. Desi

    26 Januari 2018 at 2:12 pm

    Mba Oktii enak bgt sih tempatnyaaa..ikut brasa ademnyaaa😊😊

  3. Hastira

    26 Januari 2018 at 7:23 pm

    asyik ya tinggal di desa, dulu jaman aku kecil di bandung yg masih suasana asri masih banyak sawah, main di sawah, naik kerbau, cari belut, asyik. eh jaman anakku sih boro2 ke sawah, semua sdh rumah2. Jd tahu sawah awalnay dr gambar dulu

  4. Latifika Sumanti

    26 Januari 2018 at 10:42 pm

    Yang keren itu bagi saya bukan yg rumahnya dekat mol atau pusat hiburan ala metropolitan, tapi yang keren itu yang begini, tinggal di desa, masih asli masih asri dan terjaga *tetiba mupeeng beraaat. Orang di kota justru menawarkan sekolah alam untuk anak2 kota, mba Okti Li mendapatkan nya dg gratis. Mba, itu priceless banget (tetiba ingat zaman kecil, liat sawah, sungai, maun tanah, dll)

  5. Nyi Penengah Dewanti

    27 Januari 2018 at 2:00 am

    Indah nian desamu Teh, mau banget diajak ke sana

  6. Lena Viyantimala

    27 Januari 2018 at 7:41 am

    Keren banget ini, mbak!
    Memperkenalkan alam dan keindahannya sejak dini pada si kecil. Kelak akan tertanam rasa peduli pada alam dan selalu menjaganya.
    Saya juga wong ndeso 😉

  7. Khadijah

    27 Januari 2018 at 9:59 am

    Wah desanya cantik bu. Mari bu kita berdoa jangan sampai berubah jadi beton

  8. lianny hendrawati

    27 Januari 2018 at 11:33 am

    Wah ini indah banget pemandangan desanya. Air terjunnya cantiiik. Aku dulu waktu masih kecil suka main di sungai sama anak2 tetangga hehe.

  9. Rita Asmaraningsih

    27 Januari 2018 at 11:51 pm

    Fahmi beruntung ya punya ortu yg mau mengenalkan dgn alam.. Saya teringat masa kecil dimana dulu itu mainnya spt itu dkt dengan alam.. Kadang saya naik pohon, bikin ayunan di dahan pohon, dll.. Entah anak2 skrg kayaknya gak pernah spt saya dulu mainnya.. Krn lahan sdh tertutup oleh beton..

  10. Puspita Yudaningrum

    28 Januari 2018 at 1:13 am

    Aku kangen dan suka banget sama suasana pedesaan. Nyaman dan antar wargapun masih saling tegur sapa. Jarak rumah dengan tetangga nggak ada tembok tinggi yg membatasi.. Kalo libur panjang aku selalu menghabiskan waktu utk berlibur di desa. Nggak ngebosenin ya mba suasana desa hehe

  11. Tuty Queen

    29 Januari 2018 at 11:04 am

    Senengnya lihat air terjun gitu, udah lama nggak lihat soalnya. Makanya kalo mudik ke kampung suami ke Indramayu senang banget banyak sawah terbentang luas disekitar rumah jadi adem dan fresh

Leave a Reply