Anak dan Gadget

Anak dan Gadget 

Tidak anak tidak orang tua. Tidak dimana-dimana semua lebih fokus dan banyak mengandalkan pada gadget. Hampir semua interaksi antara hubungan sosial, pekerjaan, dan seabrek aktivitas lain bergantung kepada kemudahan yang difasilitasi oleh alat canggih bernama gadget.

Selain untuk pemenuhan kebutuhan, gadget juga jadi ajang pamer atau gengsi. Orang tua bangga dan merasa naik level manakala anaknya megang gadget –meski itu gadget belum cocok untuk usianya– dan dipuji orang.

Sebaliknya, permintaan anak akan hal gadget pun cukup tinggi. Di sekitar saya ada anak usia balita sakit tidak kunjung sembuh. Selidik punya selidik si anak memendam rasa, melihat kawan sepermainannya punya tablet dan sering melihat animasi serta game yang diinstal didalamnya. Ia ingin memiliki namun orang tua tidak mampu dan tidak peka apa yang jadi masalah si anak. Ketika saudaranya dari Jakarta menghadiahkan tablet impiannya, bagai sulap sim salabim, si anak seketika sembuh. Ceria dan bersemangat lagi.

Tidak sedikit di tempat saya tinggal anak mogok sekolah kalau belum dibelikan gadget. Anak meminta dibelikan gadget (minimal seperti yang dimiliki temannya) kepada orang tuanya yang tengah bekerja di luar negeri sebagai TKI. Anak dan gadget sudah lengket.

Dampak negatif

Masuknya kebudayaan barat yang tidak pantas untuk ditiru oleh orang timur khususnya yang menganut agama Islam dengan mudah menyebar melalui gadget. Termasuk penyebaran obat terlarang, dan hal negatif lainnya.

Ibarat mata pisau, gadget dan internet memiliki dua sisi positif dan negatif. Jika digunakan untuk mengiris bawang dan membelah semangka maka pisau akan menjadi alat yang membantu manusia dalam mempermudah suatu hal.

Kebalikannya ketika sisi negatif yang dipakai, pisau digunakan untuk melukai orang, dijadikan senjata membuat keributan, maka kecelakaan yang yang jadi hasilnya.

Anak malas belajar karena sudah kecanduan main game di gadget. Anak mulai membangkang kepada orang tua karena terbiasa melototin gadget. Banyak anak yang diperingati pihak sekolah karena memilih bolos demi main game online.

Ada anak diduga pelaku kriminal, setelah ditanya ia mengatakan melakukan hal itu setelah ia melihat “contoh” dari gadget. Luar biasa dampaknya. Gadget bisa merusak bangsa dan negara jika sudah menggerogoti ahlak dan moral generasi muda, anak-anak kita.

Dampak positif 

Tidak bisa dipungkiri kalau anak sekarang sudah semakin pintar, semakin kreatif karena sejak kecil sudah berinteraksi dengan gawai yang bisa memberikannya pelajaran dan latihan.

Boleh percaya atau tidak jika Fahmi putra kami usia 3 tahun sudah bisa menghafal nama warna dan angka dalam bahasa Inggris. Selanjutnya tahu nama binatang, nama buah-buahan, profesi seseorang, sampai berbagai jenis kendaraan. Ya, padahal anak seusianya di sekitar tempat tinggal bahasa Indonesia saja belum tentu tahu.

Darimana batitaku mendapatkan pelajaran bahasa Inggris tersebut? Secara saya sebagai emaknya maupun ayahnya boro-boro mengajarkan bahasa Inggris, kami bisa saja tidak. Darimana lagi kalau bukan dari gadget di youtube?

Tidak hanya itu, karena sering mendengar dan berinteraksi Fahmi juga bisa bernyanyi, menirukan bagaimana kakak-kakak di Hi 5 bermain dan mengajak anak untuk bereksperimen dan eksplorasi. Ya karena belajar melalui gadget akhirnya anak desa ini bisa sedikit demi sedikit belajar dan menyesuaikan diri sesuai dengan tumbuh kembangnya.

Solusi

Terlepas dari sisi negatif dan positif yang ditimbulkan gadget sebagai manusia kita tidak bisa menghindar dari kecanggihan teknologi dan kemajuan zaman.

Zaman sudah berubah. Lain dulu lain sekarang. Lain lagi pendidikan anak zaman saya tahun 90-an dengan masanya anak zaman now. Semua berproses sesuai ketentuan alam. Dan kita tidak bisa jalan di tempat kecuali akan tergilas oleh kebodohan dan keterbelakangan.

Yang bisa dilakukan oleh saya selaku orang tua terhadap anaknya terkait masalah gadget adalah

1. Terbuka dengan anak. Komunikasi dengan anak. Sehingga orang tua tahu mana kebutuhan anak, mana yang sekadar ikut-ikutan atau tidak penting.

2. Selalu memberi pengertian kepada anak. Bahwasanya ada hal yang bisa dilakukan pada usianya, ada yang belum boleh dilakukan dan menunggu hingga usia cukup.

3. Mendampingi anak ketika menggunakan gadget. Anak selalu dalam pantauan dan arahan orang dewasa khususnya orang tua sehingga pemberian gadget tidak melenceng dari niat dan tujuan semula.

4. Awasi lingkungan anak tempat bermain dan bergaul. Termasuk di rumah, di sekolah dan dimana saja. Virus negatif bisa hinggap kapan saja dan dimana saja. Waspada jadi sebuah keniscayaan bagi orang tua dalam melindungi dan mendidik anak. Jangan sampai menyesal kemudian setelah anak terlanjur masuk lingkungan atau kebiasaan yang tidak diinginkan.

 

#satuharisatukaryaiidn

 

 

12 Comments

  1. Lanny

    25 Januari 2018 at 10:12 am

    Sim salabim ceria pas dibeliin gadget. Subahanallah ya teh, tantangan punya anak di zaman sekarang. Putri saya sudah dibiasakan dengan batasan menggunakan gadget/tv , jatahnya hanya 1 jam per hari.

  2. Rach Alida Bahaweres

    26 Januari 2018 at 2:28 am

    Halo teteh. Memberikan anak gadget menurutku ya tetap harus dengan pengawasan ya. Ambil sisi positifnya mislanya anak jadi makin lahir berbahasa Inggris karena nonton mainan versi bahasa Inggris. Tapi dampak negatifnya tuh yang harus diantisipasi

  3. Dian Radiata

    26 Januari 2018 at 2:49 am

    Duh ya gadget ini, candu banget buat anak-anak (eh, buat orang dewasa juga siih.. Hehehe). Kadang susahnya itu, dari kita udah kasih batasan gadget ke anak, tapi main di luar ama temen-temennya ketemu juga ama gadget 😀

  4. lendyagasshi

    26 Januari 2018 at 5:29 pm

    Aku tambahin point nya bolehkah, mba?
    Membatasi anak bermain gadget.
    Selalu beri anak pilihan, dan kesepakatan.
    (( misalnya mengenai durasi dalam bermain gadget. Karena gadget ini mudharatnya lebih besar ketimbang manfaatnya. Kalau sudah menjadi addict, bakalan lebih susah mendetoksnya. Sebelum itu terjadi, alangkah bijaknya kalau orangtua memberi batasan yang jelas mengenai penggunaan gadget. ))

    1. Okti Lilis Linawati

      26 Januari 2018 at 9:27 pm

      Boleh banget dong.
      Intinya masuk ke point 2 atau 3 kan ya? Seperti di point 3, itu saya dampingi anak dalam waktu tertentu. Kalau tidak didampingi ya gadget tidak diberikan. Jadi emang sudah ada batasan waktunya. Dan ini sudah saya dan anak sepakati.

  5. Latifika Sumanti

    26 Januari 2018 at 10:46 pm

    Saya termasuk yang keras banget dalam masalah gadget dan nonton tv ke anak, setelah baca punya mba Okti berasa diingatkan kalo benar, zaman kita dengan zaman anak sekarang hidup sudah beda banget, ga bisa disamain cara asuhnya…. Semoga bisa lebih bijak lagi nanti mengatur masalaj gadget ke anak. Tfs sharingnya mbaaa

  6. Faridilla Ainun

    26 Januari 2018 at 11:29 pm

    Mengijinkan anak berinteraksi dengan gadget, artinya orang tua juga siap mendampingi ya teh. Jangan sampai anak kecanduan terus lupa belajar

  7. Beautyasti1

    27 Januari 2018 at 4:02 am

    Aku memakai gadget untuk anak ku kebanyakan nonton dave and ava hehehe

  8. lianny hendrawati

    27 Januari 2018 at 10:50 am

    Iya nih anak-anak sekarang, yang dipegang gadget melulu. Kadang suka keterusan nggak ingat waktu. Kalo lagi musim ujian biasanya ku stop pegang gadget biar bisa konsentrasi belajar. Tapi kadang mereka tetap pegang gadget karena yang dipelajari ada di situ.

  9. Nova DW

    27 Januari 2018 at 11:45 am

    Aku berusaha membatasi penggunaan gawai untuk anak. Mencoba mengalihkan perhatiannya dengan kegiatan lain misalnya menggambar, mewarna

  10. April Hamsa

    29 Januari 2018 at 9:43 am

    Gadget itu bagai ada baik, ada buruknya jg. Asal penggunaannya diawasi, dibatasi, saya rasa oke saja. Tapi, kalau saya memilih batasin banget 😀

  11. Lina W. Sasmita

    29 Januari 2018 at 11:26 am

    Dilema ya antara ngasih dan enggak. Tapi anakku Alhamdulillah udah bisa diatur. Main gadget tiap weekend aja gak setiap hari.

Leave a Reply