Mengantisipasi Bullying Pada Anak

Mengantisipasi Bullying Pada Anak 

Sifat Fahmi yang pemalu menjadikannya lebih banyak diam dan (seolah) mengalah ketika bermain dengan kawan-kawan seusianya. Namun setelah ada jeda beberapa saat, Fahmi sudah bisa beradaptasi maka suasana pun bisa mencair. Interaksi antara Fahmi dan temannya sudah tidak bersekat lagi.

Malah pernah terjadi, setelah akrab bermain justru teman-teman Fahmi ada yang menangis dan mengadu disakiti oleh Fahmi. Saya selaku ibunya tentu saja segera menyelidikinya. Bagaimana kejadian sebenarnya. Meski jauh lebih besar saya menganggapnya sebagai pertengkaran biasa saja antara anak-anak. Yang sesaat kemudian mereka akan akur kembali.

Sebagai orang tua, di zaman serba mudah akses informasi dan berita (real maupun hoax) waspada itu keharusan. Meski Fahmi sifatnya pemalu dan pendiam, tidak menutup kemungkinan dia melihat atau menonton hal-hal yang belum cocok untuk usianya dan dia sudah mulai mencoba menirunya.

Terus terang kata bullying jadi sesuatu yang sangat saya takuti menjelang anak memasuki masa sekolah. Karena itu setiap kali anak bermain dengan teman-temannya saya selalu memastikan agar anak tidak sengaja menyakiti atau semacam saling mengancam.

Saya pastikan Fahmi tidak menyisihkan diri atau menyisihkan temannya dari arena permainan. Saya pastikan diantara Fahmi dan teman-temannya tidak saling mengolok dan tidak saling memberikan julukan yang mengejek satu sama lain.

Tidak juga membiarkan anak anak (baik Fahmi, maupun anak-anak mengaji di rumah) termasuk anak-anak tetangga di sekitar rumah saling mengerjai dan saling mempermalukan satu sama lain. Lebih jauh tidak membiarkan anak saling melukai secara fisik apalagi semacam pemalakan atau “ambil jatah”.  Karena saya percaya semua itu jika dibiarkan akan mengarah dan memupuk kepada tindakan bullying.

Saya juga berusaha supaya Fahmi yang selalu ngumpet ketika bertemu orang asing (bukan ayah ibu dan kerabat inti di keluarga) tidak menjadi korban bullying dengan cara membiasakan kepada nya mengenal kelebihan dan kekurangannya.

Jika Fahmi sudah tahu sifatnya, maka saat ada tekanan atau perlakukan yang mengarah kepada tindakan bullying maka ia tidak akan terlalu merasa tersakiti. Sebaliknya ia akan merasa sadar diri dan tetap bersyukur dengan segala kelebihan atau kekurangan dalam dirinya. Biasanya (lihat di film dan pengalaman sendiri) kalau dikerjai tapi kita tidak menggubris bahkan bersikap sama sekali tidak terganggu maka pelaku bullying tidak akan mengganggu lagi.

Saya hanya menanamkan kepada Fahmi bekal dan keterampilan asertif, bahwa Fahmi bisa menyatakan kepada siapapun (jika ada) yang mengganggunya kalau Fahmi bukan anak yang mudah dikerjain apalagi dijadikan korban.

Tidak harus menunggu anak kita jadi korban bullying, namun sebagai orang tua waspada itu niscaya. Pendekatan terhadap anak selalu terus dilakukan. Secara personal, atau melalui teman-temannya. Tetap menerapkan kedisiplinan supaya anak bisa teratur dan belajar taat. Kalaupun anak nakal (wajar) dalam meberikan  sanksi lebih ke sanksi yang sifatnya humanis dan pengabdian kepada masyarakat. Itu pun tetap sesuai dengan usia anak.

Yang jadi kunci antara anak, orang tua, guru dan atau siapapun adalah komunikasi dan interaksi antar satu dengan lainnya.

Saya yakin jika satu sama lain intens berkomunikasi maka kasus bullying bisa ditekan dan dihilangkan dari kehidupan anak kita.

Komunikasi yang dibangun jangan hanya satu arah. Sebagai orangtua coba menjadi teman dan sahabat anak. Sebagai guru coba memposisikan diri sebagai fasilitator atau mitra berbagi dengan murid.

Jangan sampai anak lebih suka mengambil jalan sendiri, dan tidak tahu kepada siapa dia harus berkomunikasi.

9 Comments

  1. mario

    24 Januari 2018 at 4:03 am

    Keren ini tulisannya teh.. Natya sama Saka juga begitu.

    1. Okti Li

      24 Januari 2018 at 6:47 am

      Semoga Natya dan Saka sehat selalu, pinter2 ya semuanya 🙂

  2. Tuty Queen

    25 Januari 2018 at 10:16 pm

    Sebagai orangtua harus benar-benar waspada dengan bullying ini ya teh, kadang kalau nggak anak kita yang jadi korban justru anak kita yang jadi pelaku.

  3. Yurmawita

    26 Januari 2018 at 2:14 am

    Kalau ortu memahami biasanya anak anak akan mudah sekali menyelesaikan masalah tapi kalau ortu campur tangan dan baper nah bisa berbuntut panjang deh

  4. Yurmawita

    26 Januari 2018 at 2:14 am

    Kalau ortu memahami biasanya anak anak akan mudah sekali menyelesaikan masalah tapi kalau ortu campur tangan dan baper nah bisa berbuntut panjang deh

  5. rizka edmanda

    26 Januari 2018 at 3:24 am

    inilah pentingnya pepatah lama yang bilang “orang tua adalah sahabat bagi anak” ya..

  6. Beautyasti1

    30 Januari 2018 at 7:08 pm

    Ya betul mba, harus waspada dan membekali anak kita agar terhindar dari bullying dan juga tidak ikut mem bully.

  7. lindaleenk

    31 Januari 2018 at 9:18 am

    membekali anak biar bisa membela diri dari bullying memang perlu sih

  8. deddyhuang.com

    5 Februari 2018 at 11:37 am

    tiap anak perlu speakup ya biar mereka gak dibully gitu aja.

Leave a Reply